Keceriaan Penyandang Disabiltas Mental Saat Mencoblos

Keceriaan Penyandang Disabiltas Mental Saat Mencoblos
David Budiyanto dengan gembiranya memperlihatkan jari kelingking kiri usai pelaksanaan Pemilu di Yayasan Galuh Bekasi, Rabu (17/4/2019). ( Foto: suarapembaruan / Mikael Niman )
Mikael Niman / YS Rabu, 17 April 2019 | 20:06 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - David Budiyanto (26) sangat gembira sambil menunjukkan jari kelingking kirinya, seusai pencoblosan di Panti Rehabilitasi Orang dengan Gangguan Jiwa Yayasan Galuh, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi, Rabu (17/4/2019) siang.

Pria dengan gangguan kejiwaan ini telah melaksanakan hak pilihnya dalam kontestasi Pemilu‎ serentak kali ini. Dia mendapat lima surat suara yakni Pilpres, DPR RI, DPRD Provinsi Jawa Barat, DPRD Kota Bekasi dan surat surat anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Pria asal Harapanjaya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi, sudah menjadi penghuni di Yayasan Galuh sejak lima tahun terakhir. Setiap bulan, kedua orangtunya kerap menjenguk ke panti rehabilitasi ini.

Di Yayasan ini, KPU Kota Bekasi berupaya memberikan hak konstitusi kepada penyandang disabilitas mental. Terdata, ada 16 penghuni Yayasan Galuh yang melaksanakan pencoblosan pada Rabu (17/4/2019).

Sementara itu, di Yayasan Zamrud, Mustikajaya, yayasan serupa dengan Yayasan Galuh, mendata ada 21 penghuni penyandang disabilitas mental melaksanakan hak pilihnya siang ini.

"Kami berupaya untuk menyalurkan hak pilih mereka. Mereka sudah terdata dalam DPT (daftar pemilih tetap) meskipun mengunakan formulir A5," ujar pengurus Yayasan Galuh, Jajat Sudrajat, ‎Rabu (17/4/2019).

Selain David, Yayasan Galuh juga mengantarkan anak asuhnya bernama Ali Sahbana asal Kabupaten Bogor, untuk menunaikan hak konstitusinya. Pria yang mengenakan baju batik cokelat ini, tak menyia-nyiakan kesempatan memilih presiden dan anggota legislator tersebut.

Petugas TPS keliling‎ mendatangi Yayasan Galuh sekitar pukul 12.40 WIB dengan pengawalan ketat kepolisian berseragam bersama petugas KPPS, Linmas, Panitia pengawas Pemilu kelurahan setempat. TPS digelar di ruang makan, yang cukup luas. Meski dengan perlengkapan seadanya, pemilihan berlangsung hingga satu jam kemudian.

"Tidak ada sosialisasi tata cara pencoblosan membuat mereka agak lama melipat surat suara. Sudah gitu, peralatan (logistik) tak disediakan seperti kotak suara, paku untuk mencoblos dicari spontan di lokasi," tutur Jajat.

Alhasil, dengan menggunakan kardus bekas, obeng kecil sebagai paku pencoblosan, petugas KPPS menggelar Pemilu seadanya. "Kita tak mungkin membawa lima kotak suara ke tempat ini, karena sudah berisi surat suara yang telah dicoblos pemilih," sambung Petugas Panwaslu ‎Kelurahan Sepanjangjaya, Nurhayati.

Sebanyak 16 penyandang disabilitas mental bersemangat melaksanakan hak pilihnya. Hasil penghitungan suara di Yayasan Galuh diumumkan di tiga TPS yakni ‎TPS 19, TPS 21 dan TPS 116, tak jauh dari Yayasan Galuh.



Sumber: Suara Pembaruan