Tanpa Quick Count, Perkiraan Hasil Pemilu Bakal Gelap Gulita

Tanpa Quick Count, Perkiraan Hasil Pemilu Bakal Gelap Gulita
Quick Count SMRC 82 Persen: Jokowi 54,92 Persen ( Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV )
Carlos KY Paath / IDS Kamis, 18 April 2019 | 13:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani, angkat bicara mengenai polemik hitung cepat atau quick count hasil Pemilu 2019. Menurut Saiful, quick count dapat meredam spekulasi hasil resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Kita menunggu hasil rekapitulasi KPU atas Pemilu kita. Bila tidak ada quick count, kita masih gelap gulita bagaimana perkiraan hasil Pemilu kita. Pasti spekulasi liar bertebaran, mengingat Tanah Air kita yang luas dan pemilih yang besar,” kata Saiful.

Hal itu disampaikan Saiful dalam keterangan yang diterima Beritasatu.com, Kamis (18/4). “Berkat ilmu pengetahuan lewat quick count, spekulasi yang tak bertanggung jawab bisa kita kurangi,” ungkap Saiful.

Saiful menyatakan, sangat alamiah kalau manusia ingin mengetahui segera informasi hasil Pemilu. “Ketidakpastian adalah sumber spekulasi dan kekisruhan. Quick count ikut meredam ini. Yang lebih penting, quick count menjadi instrumen untuk jadi pembanding hasil KPU nanti,” ucap Saiful.

Apabila quick count dan penghitungan KPU meberi hasil yang sangat berbeda, masih kata Saiful, pasti ada yang kesalahan dari salah satu pihak. Misalkan hasilnya terbalik. Saiful menyatakan, quick count merupakan alat mengecek kualitas kerja KPU.

“Kalau tak ada quick count, kita tak punya alat untuk mengecek kualitas kerja KPU yang dibiayai mahal oleh rakyat. Quick count memastikan apakah Pemilu kita jurdil (jujur dan adil) atau tidak,” tegas Saiful.

Berkat quick count, sudah mempunyai informasi yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah terkait partisipasi. “Pilpres (Pemilu Presiden dan Wakil Presiden) kali ini mencatat rekor tingkat partisipasi sekitar 83%,” ungkap Saiful.

Melalui exit poll atau survei kepada pemilih seusai mencoblos, ujar Saiful, kesaksian warga bisa diketahui. “Bahwa hampir semua warga menilai bahwa Pemilu kita jurdil. Ini legitimasi demokratik atas Pemilu kita,” kata Saiful.

Pada Pilpres 2009 dan 2014, Saiful menuturkan, data sudah masuk semua pada sore di hari H pemilihan. Sementara pada Pilpres 2019, prosesnya berjalan kurang cepat. “Sampai pagi, data masuk belum 100% walapun hasilnya sudah stabil,” ucap Saiful.

Saiful menyebut, pengitungan di tempat pemungutan suara sekarang lebih lama akibat Pemilu serempak. "DPR harus lihat lagi mudarat Pemilu serempak ini. Saya dari awal tidak melihat secara ilmiah maupun praktis manfaat Pemilu serempak ini,” tuturnya.

Saiful mengaku mengetahui bahwa yang mengajukan Pemilu serentak bukan pakar perbandingan Pemilu dan demokrasi dunia. “Hanya sok tahu aja,” tukas Saiful.

Saiful tetap merasa salut dengan suksesnya Pemilu serentak. “Di atas kerumitan yang begitu besar, Pemilu paling rumit di dunia, secara umum bangsa kita bisa melewatinys dengan baik. Saya salut dengan diri kita sebagai bangsa. Indonesia hebat,” kata Saiful.

Saiful pun menambahkan, “Berbeda dengan 2014, Pilpres 2019 ini ditandai oleh tak ada satupun lembaga quick count yang melaporkan hasilnya terbalik. Ada semacam ijtima lembaga quick count tentang hasil Pilpres ini: 01 menang atas 02 dengan selisih sangat signifikan.”



Sumber: Suara Pembaruan