Relawan Jokowi Tantang Kubu Prabowo Buka-bukaan Data Pilpres

Relawan Jokowi Tantang Kubu Prabowo Buka-bukaan Data Pilpres
Ilustrasi Pemilu 2019. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / WBP Jumat, 19 April 2019 | 14:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sejumlah elemen relawan Joko Widodo (Jokowi) menantang Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) membuka data hasil C1 Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Hal ini menyusul klaim kubu Prabowo-Sandi yang meraih 62 persen sesuai C1 internal.

“Relawan Jokowi siap beradu data dengan BPN sesuai data C1. Kami minta semua diaudit keabsahannya. Tidak hanya parpol KIK (Koalisi Indonesia Kerja) pendukung pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin (Jokowi-Amin), tapi relawan Jokowi juga memiliki data C1 hasil pemungutan suara di TPS (tempat pemungutan suara),” kata Ketua Umum (Ketum) Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat), Hendrik Sirait dalam keterangan diterima Beritasatu.com, Jumat (19/4/2019).

Pihaknya menantang BPN untuk mengadu data secara terbuka. "Klaim-klaim seperti ini sudah pernah kita hadapi 2014, terbukti kalah,” tukas Hendrik Sirait.

Pada Pilpres 2014, kata Hendrik Sirait, kubu Prabowo-Hatta Rajasa berjanji akan menyampaikan bukti ke Mahkamah Konstitusi (MK). “Dulu mereka sampaikan mau ke MK dengan bukti 10 truk, tapi pada akhirnya nol besar,” tegas Hendrik Sirait.

Sementara Ketum Arus Bawah Jokowi (ABJ) Michael Umbas menyatakan, klaim BPN memang sengaja ingin membingungkan rakyat. Sebab sudah jelas Prabowo-Sandi kalah berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei.

Michael Umbas meminta kubu Prabowo-Sandi mengecek di situs Google maupun jejak digital era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Kala itu, SBY menerima hasil quick count. Umbas juga menyinggung sikap Prabowo terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017.

“Ketika Pilgub DKI yang memenangkan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, malah Prabowo sendiri yang mengumumkan hasil kemenangan dengan acuan quick count. Sekarang mau gertak dengan acuan real count. Langkah denial the truth ini akan makin membuat Prabowo terperosok,” tukas Michael Umbas.

Sekretaris Jenderal Sekretariat Nasional Jokowi, Deddy Mawardi juga menyampaikan hal serupa. Menurut Deddy Mawardi, sejarah Pilkada maupun Pemilu langsung di Indonesia, telah membuktikan akurasi quick count.

Deddy Mawardi mengklaim Prabowo meraih 62 persen suara Pilpres 2019 di luar logika kaum intelektual yang percaya penelitian ilmiah. Deddy Mawardi pun meminta pihak Prabowo-Sandi membuka ke publik mengenai metode penghitungan internal. “Kami sangat dan begitu yakin kubu Prabowo-Sandi tidak berani. Kenapa? Ya mungkin karena tidak ada datanya. Mereka cuma beri coba beri harapan ke pendukung. Beberapa pemilih Prabowo-Sandi tentu ada yang tidak percaya,” ucap Deddy Mawardi.

Ketum Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Mustar Bonaventura mengatakan, kubu Prabowo-Sandi sepatutnya tidak membuat masyarakat bingung. “Tidak perlu menghasut rakyat melalui informasi sesat, apalagi dengan ajakan inkosntitusional seperti people power,” kata Mustar Bonaventura.

Mustar Bonaventura mengingatkan, pemilu di Indonesia menjadi salah satu pesta demokrasi rujukan dunia. Proses pemungutan sekaligus penghitungan suara di TPS sangat terbuka dan terang benderang. “Kubu 02 sering bilang gunakan akal sehat. Deklarasi kemenangan 62 persen jelas jauh dari akal sehat,” ucap Mustar Bonaventura.



Sumber: Suara Pembaruan