KIPP Tantang Kubu Prabowo Buka-bukaan soal Klaim Kemenangan

KIPP Tantang Kubu Prabowo Buka-bukaan soal Klaim Kemenangan
Calon Presiden no urut 02, Prabowo Subianto memberikan keterangan pada jumpa pers seputar hasil penghitungan sementara pemungutan suara Pemilu 2019 di Sekretariat Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto - Sandiaga Uno, Jakarta, Rabu (17/4/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Fana Suparman / FMB Jumat, 19 April 2019 | 15:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wasekjen Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP), Jojo Rohi menantang kubu pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk secara terbuka membeberkan real count internal yang menempatkan pasangan nomor urut 02 sebagai pemenang dengan raihan 62 persenn. Klaim kemenangan Prabowo-Sandi ini berbeda dengan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei yang justru menempatkan pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin sebagai pemenang.

"Saran saya pada kubu Prabowo-Sandi, undanglah pers dan publik untuk melihat sendiri dapur real count dari kubu 02 itu. Bagaimana mereka berproses dan bekerja, apa dan dari mana saja sumber-sumber data yang mereka pakai sebagai olahan. Tunjukkan salinan C1 yang mereka kumpulkan dari para saksi mereka di setiap TPS seluruh Indonesia," kata Jojo kepada SP, Jumat (19/4/2019).

Jojo menegaskan, tantang ini sudah seharusnya dijawab kubu Prabowo-Sandi. Jika tantangan ini diabaikan, Jojo mengatakan, publik juga bakal mengabaikan klaim Prabowo-Sandi.

"Sesederhana itu sebenarnya," katanya.

Jojo mengatakan, survei atau real count internal, semestinya hanya untuk konsumsi internal juga. Bila itu dipublikasi, konsekuensi logisnya adalah harus buka-bukaan, baik secara metodologi maupun sumber-sumber datanya.

"Itu yang tak dilakukan oleh kubu 02. Maka klaim hanyalah tinggal klaim yang cuma berbunyi di ruang hampa. Keberanian untuk melakukan klaim, harus diikuti juga dengan keberanian untuk diverifikasi secara terbuka," tegasnya.

Jojo menyatakan, hal yang lumrah setiap kubu yang bertarung dalam kontestasi politik, termasuk pilpres untuk mengklaim kemenangan. Namun, kata Jojo para pihak yang mengklaim kemenangan seharusnya berani memberikan ruang pada publik untuk memverifikasi klaim tersebut.

"Itu yang jadi problem utama dari kubu Prabowo. Klaim 62 persen perolehan suara dengan metode real count itu oke-oke saja. Masalahnya, kubu koalisi Prabowo tak punya instrumen untuk menguji klaimnya sendiri secara terbuka. Mestinya, klaim apapun itu harus bisa dibuktikan, divalidasi, sehingga klaimnya menjadi sahih dan punya legitimasi secara metodoligis, dan bisa dipertandingkan dengan hasil quick count lembaga lainnya," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan