Persepi Tantang BPN Buka Sumber Dana Lakukan Quick Count dan Survei

Persepi Tantang BPN Buka Sumber Dana Lakukan Quick Count dan Survei
Philips J Vermonte ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / Hendro D Situmorang / CAH Sabtu, 20 April 2019 | 21:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persepi) menantang Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi membuka sumber dana yang digunakan melakukan survei atau quick count yang memenangkan Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019. Jika BPN membuka sumber dananya, maka lembaga-lembaga survei yang tergabung dalam Persepi juga akan membuka sumber dana melakukan survei atau quick count.

"Tolong sampaikan, kita buka dananya, kalau dia (Prabowo-Sandi) juga buka dananya," ujar Ketua Persepi Philips J Vermonte dalam konfrensi pers di Hotel Morissey, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Sabtu (20/4/2019).

Philips menegaskan bahwa data-data yang digunakan untuk quick count yang dilakukan lembaga-lembaga survei merupakan data hasil penghitungan C1 di TPS. Jika kubu Prabowo-Sandi tidak percaya atau meragukan data tersebut, kata dia, dipersilahkan melakukan cek silang dengan data real di TPS bersangkutan.

"Ada formulir C1 planonya, bisa di-crosscheck dengan daerah di tempat pemungutan suara terkait," tandas Direktur Center for Strategic and Stuies (CSIS) ini.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal Persepi Yunarto Wijaya mengatakan pihaknya tidak keberatan untuk membukan sumber dana dalam melakukan survei atau quick count. Namun, Yunarto meminta BPN Prabowo-Sandi harus fair membuka sumber dana dan metodologi survei yang menyebut Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menang 62 persen.

"Makanya kami mengajak dari awal teman-teman yang meragukan metodologi kami, independensi kami saling membuka data. Saling membuka hal hal yang perlu dibuka, termasuk soal dana," kata Yunarto.

Menurut dia, BPN Prabowo-Sandi tidak bisa klaim sepihak bahwa lembaga survei yang melakukan quick count curang atau tidak benar hanya karena hasilnya Prabowo-Sandi kalah. Klaim tersebut merupakan bentuk penggiringan opini juga .

‎"Ya kalau saya selama data tidak mau dibuka, jangan-jangan kita boleh curiga tidak ada datanya. Itu saja. Karena kalau memang datanya dimiliki tidak sulit kita tinggal menyiapkan," pungkas Yunarto.

Sebelumnya, ‎Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Andre Rosiade meragukan validitas quick count yang ditayangkan sejumlah stasiun televisi. Mereka mempersilakan lembaga-lembaga survei buka-bukaan soal donatur alias penyandang dana yang ada di balik lembaga-lembaga survei tersebut.

Dirinya meminta dalang di balik pemilik lembaga survei seperti Denny JA, Yunarto Wijaya, Hanta Yudha, Saiful Mujani, dan Burhanudin Muhtadi berani membuka sumber dana penelitian surveinya. Bagi dia, itu lebih penting ketimbang membeberkan metodologi survei ke masyarakat.

“Tanya survei ini duitnya dari mana selama berbulan-bulan ini. Kan miliaran. Apakah mungkin mereka keluarin duit sendiri miliaran? Tolong itu dijelaskan ke publik,” tegas Andre.



Sumber: BeritaSatu.com, Suara Pembaruan