Deklarasi Prabowo Cerminan Sikap Menang Sendiri

Deklarasi Prabowo Cerminan Sikap Menang Sendiri
Calon presiden Prabowo Subianto (tengah) bersama cawapres Sandiaga Uno dan petinggi partai pendukung mengangkat tangan saat mendeklarasikan kemenangan pada Pilpres 2019 di kediamannya Jl. Kertanegara, Jakarta, 18 April 2019. ( Foto: ANTARA / Indrianto Eko Suwarso )
Robertus Wardi / YUD Senin, 22 April 2019 | 09:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat politik Arif Susanto menilai‎ pernyataan kemenangan dan deklarasi Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024 mencerminkan sikap ingin menang sendiri. Sebagai suatu kontestasi, Pemilu tentu saja menghasilkan pemenang dan pihak yang kalah. Dalam suatu Pemilu fair, sepatutnya dihasilkan situasi "menang terhormat, dan kalah tetap bermartabat".

"Apa yang dilakukan pasangan itu, tidak mencerminkan kedewasaan politik. Tidak siap untuk kalah dan menang," kata Arif di Jakarta, Senin (22/4).

Ia menilai‎ tuduhan Pemilu curang dari kubu Prabowo-Sandi sangat problematik. Pertama, kesalahan-kesalahan kasuistis tidak lantas menggeneralisasi bahwa seluruh proses dan hasil Pemilu tidak sah. Kedua, terdapat mekanisme koreksi untuk menyelesaikan sengketa tentang proses dan hasil Pemilu. Ketiga, ketidakpercayaan terhadap penyelenggara Pemilu telah dibangun sejak awal.

Pada sisi lain, lanjut Arif, sikap ingin menang sendiri tersebut muncul dari pemahaman keliru bahwa politik adalah suatu zero sum game, dengan kemenangan satu pihak berarti kekalahan mutlak pihak lain.

"Dalam politik, persuasi dan negosiasi nyaris tidak pernah membuat satu pihak pemenang merampas seluruh kue kekuasaan. Kontrol oposisi tetap merupakan kebutuhan bagi demokrasi," tutur Arif yang juga analis pada Exposit Strategic ini.

Pengajar pada Universitas Paramadina Jakarta ini menambahkan‎ peluang untuk bertarung usai kekalahan selalu terbuka. Hasil Pileg membuka kemungkinan konfigurasi baru politik. Hal ini juga dapat memberi modal politik untuk kontestasi Pilkada 2020 dan membangun kekuatan menyongsong Pemilu 2024. Sebab, tahun 2024 memberi peluang regenerasi politik memberi ruang kontestasi lebih leluasa bagi banyak elite baru politik.



Sumber: Suara Pembaruan