Bara JP: Demi Rakyat, Semua Pihak Hendaknya Buka Data

Bara JP: Demi Rakyat, Semua Pihak Hendaknya Buka Data
Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), diikuti petugas saksi dari partai, caleg, maupun capres mengikuti rekapitulasi suara pemilu tingkat kecamatan, di kantor Kecamatan Menteng, Pengangsaan, Jakarta Pusat, Minggu 21 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Aditya L Djono / ALD Senin, 22 April 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Demi terciptanya ketenangan masyarakat dalam merespons hasil pemungutan suara Pilpres 2019 yang dilaksanakan Rabu (17/4/2019), semua pihak hendaknya membuka data mentah dan metodologi, baik yang digunakan dalam penghitungan secara cepat (quick count) maupun penghitungan langsung secara manual (real count) oleh internal parpol pendukung.

“Sekjen Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi) Yunarto Wijaya telah menyatakan, semua anggota yang melakukan quick count dalam pilpres lalu, bersedia membuka data mentah quick count yang mereka lakukan,” kata Ketua Umum Bara JP, Sihol Manullang, di sela-sela tasyakuran atas kemenangan pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin di Jakarta, Minggu (21/4) malam.

Melalui keterangan tertulisnya, Sihol Manullang meminta kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uni, hendaknya juga ikut membuka data mentah dan metodologi yang mereka gunakan, sehingga sampai pada kesimpulan bahwa pihaknya memperoleh 55% suara, kemudian naik menjadi 62%, dan terakhir menjadi 65% melalui penghitungan di 300.000 tempat pemungutan suara (TPS).

Untuk itu, Bara JP meminta para pakar statistik dan ilmu politik di berbagai perguruan tinggi di Indonesia, membentuk tim penilai guna “mengadili” data mentah dan metodologi penghitungan suara yang dilakukan anggota Persepi dan kubu Prabowo-Sandiaga. Melalui forum “pengadilan” oleh para pakar statistik dan ilmu politik yang benar-benar netral, niscaya memberi ketenangan di masyarakat.

“Dengan demikian masyarakat tidak lagi terombang-ambing dalam persepsi yang tidak jelas. Seyogyanya para ilmuwan berjalan di depan, laksana memegang obor dalam kegelapan malam. Selanjutnya, biarkan masyarakat menilai dan menentukan sikap sendiri,” kata Sihol Manullang.

Apabila semua pihak tidak segera membuka data mentah dan metodologi masing-masing, maka berita bohong (informasi salah) yang terus-menerus digaungkan, lama-kelamaan diyakini kebenarannya oleh masyarakat. “Ini persis seperti yang dilakukan Adolf Hitler, melalui Menteri Penerangan Publik dan Propaganda Joseph Goebels,” ujarnya.

Sihol mengatakan, keutuhan bangsa dalam NKRI yang sudah final, hendaknya tetap dijaga semua pihak. Mengutip wejangan KH Zainuddin MZ, kebangsaan adalah laksana gelas, apabila sempat pecah maka tidak bisa diperbaiki seperti semula. Lem kualitas apa pun tak akan bisa mengembalikan gelas pecah menjadi utuh kembali.

“Memberi contoh jauh lebih baik dari memerintah. Para pemimpin bangsa hendaknya memberi contoh kepada masyarakat, bagaimana kesiapan mengikuti sebuah kontestasi, siap menjadi pemenang dan secara demokratis juga siap apabila belum menjadi pemenang,” kata Sihol Manullang.



Sumber: Press Release