Teruskan Suara Ormas Islam, JK Dorong Pertemuan Jokowi dan Prabowo

Teruskan Suara Ormas Islam, JK Dorong Pertemuan Jokowi dan Prabowo
Calon Presiden petahana nomor urut 01 Joko Widodo, dan calon wakil presiden KH. Ma’ruf Amin, bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan Menko Maritim Luhut B. Panjaitan, mengamati hasil hitung cepat (quick count) pilpres 2019 di Gedung Jakarta Theater, Jakarta, Rabu 17 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Robert Wardi / HA Selasa, 23 April 2019 | 00:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan para tokoh agama Islam berkumpul di rumah dinas Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Senin (22/4) malam‎. Mereka membahas situasi politik pasca-pemilu tanggal 17 April lalu.

Bersama JK, para tokoh sepakat mendukung pertemuan kedua calon presiden (Capres). Mereka berharap pertemuan antara Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto segera terlaksana.

"Tentu diharapkan makin cepat makin baik apabila Pak Jokowi dapat bertemu dengan Pak Prabowo. Tentu kita semua mendukung apabila ada rekonsiliasi seperti itu sehingga rekonsiliasi di bawah juga bisa cepat dicapai," kata JK usai pertemuan.

JK menjelaskan tokoh-tokoh yang hadir sepakat penyelesaian masalah pemilu diselesaikan lewat mekanisme hukum. Tidak boleh terjadi perbuatan yang melanggar hukum atau main hakim sendiri.

‎"Jadi apa pun masalahnya tentu dapat diselesaikan oleh Bawaslu atau Mahkamah Konstitusi apabila ada yang menyelesaikan itu. Jangan ada yg berbuat sendiri-sendiri," tegas JK.

Para tokoh yang hadir pada pertemuan itu adalah Ketua Umum (Ketum) Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketum PBNU KH Said Aqil Siradj, KH Salahuddin Wahid, Hamdan Zoelfa, Mahfud MD, Imam Besar Masjid Istiqlal KH Nazaruddin Umar, dan KH Anwar Abbas.

Kemudian tampak pula, Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin, Waketum MUI Zainut Tauhid, Sekjen PBNU Helmy Faishal, Sekjen PP Muhammadiyah Abdul Muti, Ustadz Nashirul Haq, KH Yusnar Yusuf, Yeye Zainuddin, Men-PAN RB Syafruddin, Jimly Asshidqie, dan Komaruddin Hidayat.



Sumber: Suara Pembaruan