Jatuh Korban, Bima Arya Kritisi Perekrutan Panitia Pemilu

Jatuh Korban, Bima Arya Kritisi Perekrutan Panitia Pemilu
Wali Kota Bogor, Bima Arya, memberikan arahan saat memberikan SK kepada 234 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Pemkot Bogor di bantaran Sungai Ciliwung, Kota Bogor, Selasa, 26 Maret 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale )
Vento Saudale / WBP Selasa, 23 April 2019 | 15:08 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Wali Kota Bogor Bima Arya mengkritisi penitia penyelenggara pemilu (PPS) yang sebagian besar lanjut usia dan tidak terekam kesehatannya. Ke depan perekrutan sebisa mungkin menyasar usia muda.

Hal itu dikatakan Bima usai menjenguk salah satu panitia penyelenggara pemilu yang dirawat di RS PMI, Kota Bogor, Selasa (23/4/2019). Berdasarkan catatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) lima hari pasacapencoblosan di Kota Bogor, dua orang dilaporkan meninggal dunia dan tujuh orang sakit.

"Kita harus evaluasi, terkait penyelenggaraan pemilu. Agar lebih mementingkan faktor keselamatan panitia penyelenggara. Karena korbannya cukup banyak dan masif, tidak hanya di Kota Bogor saja," papar Bima kepada Beritasatu.com, Selasa (23/4/2019).

Bima Arya pun menitikberatkan kepada KPU dalam perekrutan penitia penyelengara yang sebagian besar di isi tokoh masyarakat, pensiunan, yang usainya sudah lanjut. Penyelengraaan pemilu serentak yang begitu berat sehingga menjadikan banyak korban.

"Ke depan saya minta KPU harus disempurnakan. Rekrutmen sebisa mungkin harus melibatkan anak muda yang mempunyai daya tahan tinggi," kata Bima.

Sementara, Kepada Dinas Kesehatan Rubaeah yang mendampingi wali kota menambahkan, sebagian besar panitia pemilu yang sakit mengalami kelelehan. Pekerjaan yang begitu diporsir tanpa jeda istirahat menyebabkan sakit.

"Jam kerjanya di atas normal, sedangkan tidak ada asupan energi yang cukup. Hal itu menyebabkan hipertensi, hingga tipus," paparnya.

Rubaeah juga mencermati, ada kemungkinan riyawat penyakit para penyelenggara pemilu. Sehingga dengan mudah para panitia terpapar sakit ketika dalam kondisi lemah.

"Seharusnya ketika perekrutan tenaga kerja juga harus disertai riwayat kesehatan. Agar penyelenggraaan pemilu dikerjakan orang-orang siap secara kesehatan," tambah Rubaeah.

Pascakejadian, Dinkes Kota Bogor memantau jalannya rekapitulasi di setiap kecamatan. Dalam proses itu, setiap penyelenggara pemilu akan dicek kesehatannya. Satu kendaraan ambulace pun akan disiapkan di tiap kecamatan.



Sumber: BeritaSatu.com