KPU Investigasi Pembakaran Kotak dan Surat Suara di Papua

KPU Investigasi Pembakaran Kotak dan Surat Suara di Papua
Seorang warga di Kabupaten Puncak memasukan surat suara kedalam noken. ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / IDS Rabu, 24 April 2019 | 14:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ilham Saputra mengatakan, pihaknya sedang menginvestigasi kasus dugaan pembakaran kotak dan surat suara di distrik Tiginambut, Puncak Jaya, Papua. Kasus ini sedang viral melalui sebuah video yang berisikan pembakaran kotak dan surat suara oleh warga.

"Sekarang sedang diinvestigasi siapa pelaku pembakaran, berapa TPS kotak dan surat suara yang dibakar," ujar Ilham dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (24/4/2019).

Ilham mengatakan pihaknya sudah melakukan konfirmasi ke KPU Puncak Jaya melalui KPU Provinsi Papua. Berdasarkan konfirmasi tersebut, kata Ilham, kasus tersebut terjadi pada 23 April 2019 di distrik Tiginambut.

"Saya sudah konfirmasi ke Ketua KPU Papua. Kejadian terjadi kemarin tanggal 23 April 2019, di distrik Tiginambut. Pemilu berjalan lancar, kotak suara sudah disimpan di kantor distrik. Menurut pengakuan Ketua KPU Puncak Jaya via Ketua KPU Papua," ungkap Ilham.

Saat ini, KPU RI, kata Ilham masih menunggu hasil investigasi dari KPU Puncak Jaya untuk mengambil langkah selanjutnya. "Kami masih menunggu informasi lanjutan dari KPU Puncak Jaya," pungkas dia.

Di medsos beredar video berdurasi 05.07 menit yang berisikan insiden pembakaran kotak suara. Dalam video itu juga terdengar suara seorang pria yang sedang menarasikan kejadian yang direkam.

"Selamat siang inilah tempat pembakaran kotak suara maupun surat suara di distrik Tingginambut. Masyarakat melaksanakan pembakaran. Tolong teman-teman viralkan di medsos. Ini pelaksanaan Pilpres 2019 terburuk dalam sejarah. Di kabupaten Puncak Jaya tidak ada pilpres. Di desa-desa, di distrik-distrik semua surat suara diikat jadi satu oleh seorang Bupati, dikasikan ke bapak Jokowi," kata Pria tersebut.

"Ini namanya enggak adil pilpres macam apa. Tidak ada pilpres cuma ada pileg. Pilpresnya diikat jadi satu. Dikasihkan ke bapak Jokowi. Memang dalam kecurangan ini gimana info bisa makmur dan maju kalau pilpresnya kaya gini. Ini penuh dalam kecurangan. Mama-mama angkat surat suara ke distrik dia akan buang," tambah dia.



Sumber: BeritaSatu.com