Suara Menggelembung Akibat Ketidakpahaman KPPS akan Pileg 2019

Suara Menggelembung Akibat Ketidakpahaman KPPS akan Pileg 2019
Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), diikuti petugas saksi dari partai, caleg, maupun capres mengikuti rekapitulasi suara pemilu tingkat kecamatan, di kantor Kecamatan Menteng, Pengangsaan, Jakarta Pusat, Minggu 21 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Fuska Sani Evani / FMB Jumat, 26 April 2019 | 10:43 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Sleman, menemukan banyak kesalahan dalam input data perolehan suara Pemilu 2019. Faktor ketidakpahaman sistem penghitungan suara calon anggota legislatif dan suara yang harus masuk ke suara partai, menjadi pemicu membengkaknya jumlah total suara dalam partai.

Koordinator Divisi Hukum, Data dan Informasi Bawaslu Sleman, Arjuna Al Ikhsan Siregar mengatakan, di Sleman temukan banyak kesalahan input data dalam penghitungan surat suara. Jika ditemukan kesalahan tersebut, maka harus dilakukan proses penghitungan suara ulang, karena banyak ditemukan kesalahan penghitungan suara atau selisih di beberapa kecamatan.

Selisih yang dimaksud adalah adanya perbedaan jumlah pemilih yang mencoblos dibandingkan jumlah suara yang berhasil dihitung.

Dikatakan, selisih suara dan jumlah pemilih dalam satu TPS ternyata banyak yang bersumber dari tidak pahamnya KPPS saat menginput angka. Misalnya ketika ada pemilih mencoblos caleg, petugas menghitungnya dengan menambahkan satu suara ke caleg, termasuk satu untuk partai. Adapula kasus pemilih mencoblos caleg, tetapi dimasukkan ke suara partai.

"Calegnya dapat satu, partainya dapat satu. Kalau misalnya caleg itu dapat 23 suara, partainya juga dapat 23 suara, jadi malah dua kali lipat. Di beberapa kecamatan ditemukan seperti itu. Jadi akhirnya dilakukan proses penghitungan ulang," terangnya.

Ia menekankan bahwa hal itu hanyalah kesalahan input data dari KPPS dan bukan kecurangan atau penggelembungan suara.

Sementara itu, Pemungutan Suara Ulang (PSU) di beberapa TPS di DIY, menyebabkan angka partisipasi pemilih di TPS PSU menyusut. Seperti di TPS 52 Caturtunggal, Kecamatan Depok, Sleman, partisipasi masyarakat dalam menyalurkan hak pilihnya.

Ketua Divisi SDM dan Partisipasi Masyarakat KPU Sleman, Indah Sri Wulandari mengatakan pada hari H pelaksanaan pemilu, Rabu (17/4) ada 245 pemilih, yang terdiri dari 229 pemilih dari Daftar Pemilih Tetap (DPT), 10 pemilih dari Daftar Pemilih Khusus (DPK) dan enam pemilih dari Daftar Pemilih Tambahan (DPTb).

Lalu, kata dia, pada pelaksanaan PSU Rabu (24/4/2019), tercatat 205 pemilih yang masuk dalam DPT, 10 pemilih yang masuk dalam DPK dan tidak ada pemilih yang masuk dalam DPTb.

“Berarti ada penurunan tingkat partisipasi sebesar 10,7 persen,” jelas dia.

Menurutnya, penurunan partisipasi tersebut dikarenakan pada saat pelaksanaan PSU, ada masyarakat yang bekerja dan beraktivitas lainnya.

Selain di TPS 52 Caturtunggal, di hari yang sama PSU juga digelar di TPS 03, Argomulyo, Kecamatan Cangkringan. Pemilih A5 tidak hadir.

Kedua TPS yang direkomendasikan untuk PSU adalah TPS 03 Cangkringan dan TPS 52 Caturtunggal. Kesalahan administratifnya yaitu karena ada pemilih luar daerah yang tidak memiliki A5 dan tidak masuk dalam DPK, namun ikut mencoblos dengan menggunakan KTP-el luar daerah.



Sumber: Suara Pembaruan