FKUI Rekomendasikan Petugas KPPS Perlu Surat Keterangan Sehat

FKUI Rekomendasikan Petugas KPPS Perlu Surat Keterangan Sehat
Warga melintasi karangan bunga saat aksi dukacita untuk pahlawan demokrasi di Jakarta, Minggu, 28 April 2019. Aksi tersebut dilakukan untuk mengenang 225 orang pejuang demokrasi yang terdiri dari petugas KPPS/KPU serta anggota Polri yang gugur saat mengawal proses Pemilu 2019. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / YS Senin, 29 April 2019 | 17:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Fahrial Syam merekomendasikan panitia penyelenggara pemilu ad hoc seperti KPPS, PPK, dan PPS ke depannya perlu dipastikan kesehatannya.

Ari berharap mereka yang terpilih menjadi KPPS haruslah mendapatkan surat keterangan sehat.

"Kami merekomendasikan KPPS di bawah 60 tahun. Kemudian, perlu surat keterangan sehat. Lalu, jika ada yang berusia di atas 40 tahun perlu detail lagi. Perluasan pemeriksaan kesehatan lebih dalam untuk kesehatan," ujar Ari di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (29/4).

Menurut Ari, mayoritas KPPS yang meninggal dunia berusia di atas 40 tahun. Karena itu, faktor usia sebaiknya dipertimbangkan dalam rekruitmen KPPS. FKUI juga merekomendasikan KPPS ke depannya berusia di bawah 60 tahun.

"Kami dapatkan data dari KPU tadi, bahwa 70 persen yang meninggal ini berumur di atas 40 tahun. Jadi 40 tahun itu usia yang sudah memasuki usia yang perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Patokan usia kritis yang orang sehat gampang sakitlah. Sebenarnya ini bisa jadi contoh bahwa faktor usia berperan dalam pasien ini mengalami sakit dan meninggal," jelas dia.

Ari mengatakan, ke depannya tenaga kesehatan perlu dilibatkan selama KPPS bertugas. Apalagi beban kerjanya Pemilu 2019 sangat besar.

"Jadi ke depannya jadi pelajaran perlu melibatkan Puskemas karena ada di semua daerah. Supaya Puskemas turut menjaga kesehatan para petugas KPPS. Memang Pemiu 2019 bebannya berbeda karena memeriksa lima surat suara. Pilkada tidak seberat itu tapi perlunya ada antisipasi dari tim kesehatan," kata Ari.

Lebih lanjut, Ari menyebutkan beberapa dugaan penyebab KPPS meninggal dunia dan sakit. Pertama, waktu kerja yang melewati jam biologis manusia.

"Mereka bekerja bahkan sampai 24 jam. Kemudian kita juga melihat pemeriksaan kesehatan mereka. Artinya mereka sebagian ada yang sehat ada yang tidak," tutur dia.

Selain itu, kata Ari, penyebab lain yang menyebabkan KPPS meninggal adalah faktor stres, tekanan psikologis yang tinggi dan faktor lingkungan.

"Lalu juga kondisi lingkungan kerja, karena biasa mereka berada di tenda-tenda, di mana juga penerangannya terbatas, udara yang terbuka. Jadi kondisi lingkungan, kondisi fisik dan kondisi waktu kerja yang berlebihan ini jadi satu hal yang akhirnya mereka jatuh sakit dan bahkan menyebabkan kematian," tandas Ari.

FKUI, kata Ari, akan melakukan kajian ilmiah terhadap penyebab meninggalnya KPPS ini. Nantinya, FKUI akan terjun ke lapangan untuk melakukan penelitian.

"Penelitian ini dilakukan bersifat ilmiah, sehingga targetnya nanti adalah publikasi dalam jurnal nasional dan internasional. Dan ini juga akan menjadi masukan untuk pemerintah, artinya pemangku kepentingan yang berikutnya," tutur dia.



Sumber: Suara Pembaruan