12% Suara Tidak Sah di Hongkong, Ini Penjelasan PPLN

12% Suara Tidak Sah di Hongkong, Ini Penjelasan PPLN
Ilustrasi Pemilu 2019. ( Foto: AFP )
Yustinus Paat / YUD Minggu, 5 Mei 2019 | 17:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Bawaslu Abhan mempertanyakan penyebab tingginya angka suara tidak sah untuk pemilihan calon legislatif (caleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) di Hongkong. Suara tidak sah di Hongkong mencapai angka 12 persen.

Abhan mempertanyakan hal ini saat proses rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara tingkat nasional dan penetapan hasil pemilihan umum tahun 2019 di Gedung Bawaslu RI, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019).

"Mohon bisa dijelaskan terkait perolehan suara tidak sah di DPR, kenapa sampai surat suara yang tidak sah tinggi dari perhitungan kami jumlahnya mencapai 12 persen," tanya Abhan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi suara, surat suara sah di Hongkong sebanyak 40.179 suara, sedangkan surat suara tidak sah mencapai 5.586 surat suara dengan total suara 45.765.

Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Hongkong Kris Suganda menjelaskan, tingginya jumlah surat suara DPR RI yang tidak sah karena tidak dicoblos pemilih saat di TPS.

"Khusus untuk pemilu legislatif pada saat penghitungan surat suara di TPS banyak yang tidak dicoblos. Melalui pos juga banyak ditemukan surat suara yang disobek kolom pesertanya, itu yang dikirim ke kami," jelasnya.

Hal tersebut, lanjut Kris, merupakan respon dari pemilih yang berasal dari provinsi berbeda, namun saat pemilu diberikan caleg yang berasal dari dapil DKI 2 yang meliputi Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan luar negeri.

"Kami melihatnya karena respon dari pemilih yang berasal dari Jatim (Jawa Timur) dan Jateng (Jawa Tengah), tetapi memilihnya untuk dapil Jakarta," pungkas Kris. 



Sumber: BeritaSatu.com