TKN Apresiasi Transparansi Pelaksanaan Pemilu

TKN Apresiasi Transparansi Pelaksanaan Pemilu
Tim Kampanye Nasional, Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding (kanan). ( Foto: BeritaSatu Photo / Markus Junianto Sihaloho )
Hendro D Situmorang / CAH Selasa, 7 Mei 2019 | 18:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul Kadir Karding menyambut baik segala tahapan kalkulasi hasil pemilu yang semuanya menunjukkan keunggulan mutlak Jokowi-Ma'ruf. Menurutnya baik quick count dan real count adalah instrumen untuk memastikan hasil pemilu sesuai dengan prinsip kejujuran dan keadilan.

"Alhamdulillah, segala instrumen yang mendukung pelaksanaan pemilu yang jurdil menunjukkan hasil yang sama, yakni kemenangan paslon 01 dalam pemilu," kata Karding, dalam keterangannya kepada Beritasatu.com, Selasa (7/5/2019).

Berdasarkan penghitungan sementara tersebut, Jokowi-Amin unggul di sejumlah provinsi. Di antaranya Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTT, Papua sebagian wilayah Kalimantan, hingga TPS luar negeri.

Menurut Karding, setiap tahapan demokrasi memang wajar untuk dikritisi secara terbuka. Karenanya dia menyambut positif sikap KPU maupun lembaga survei yang membuka lebar-lebar data milik mereka.

"Transparansi itu kunci dari pemilu yang jurdil. Di pemilu kali ini kita patut memuji KPU yang begitu transparan dalam menyajikan perhitungannya. Begitu juga dengan lembaga quick count sebagai pembanding yang juga sangat terbuka dalam menyajikan basis data pemilihannya," kata dia.

Karena alasan itu, lanjut Karding, siapapun pihak yang ingin berdebat soal hasil pemilu sudah seharusnya memiliki sikap yang sama dengan KPU atau lembaga quick count. Jika mengkritik pemilu, tanpa data yang transparan maka hal itu bisa dinilai sebagai usaha penyesatan.

"Kita ini sekarang berbicara ilmu statistika yang mana harus ada data untuk beragumentasi. Jadi akan sesat kita jika hanya berbicara tanpa data," ujar Karding.

Menurut Karding segala tahapan pemilu yang berjalan sukses dan lancar sudah seharusnya diapresiasi. Bukan justru didelegitimasi karena kekecewaan soal hasil elektabilitas calon tertentu yang belum sesuai dengan harapan.

"Dalam kontestasi ada kalah dan menang. Ada yang luas dan tidak puas akan hasil. Itu semua wajar. Yang tak wajar kalau rasa puas dan tidak puas itu membuat kita bersikap di luar logika," kata Karding.

KPU rencananya akan mengumumkan hasil final pilpres dan pileg 2019 pada Rabu (22/5). KPU menetapkan hasil pemilu menggunakan perhitungan manual berjenjang. Karding meminta semua pihak untuk dewasa dalam menyikapi hasil itu.

"Karena sekarang kepentingan kita sudah bukan 01 atau 02 tapi membangun bangsa Indonesia yang lebih maju dan sejahtera kedepannya," tutup Karding.



Sumber: Suara Pembaruan