KPU Fokus Beri Santunan Penyelengggara Pemilu yang Tertimpa Musibah

KPU Fokus Beri Santunan Penyelengggara Pemilu yang Tertimpa Musibah
Ilustrasi KPU (Foto: Beritasatu.com)
Yustinus Paat / WBP Rabu, 8 Mei 2019 | 11:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisioner KPU Evi Novida Ginting Manik mengatakan KPU fokus menyalurkan santunan kepada para penyelenggara pemilu ad hoc seperti Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang tertimpa musibah. KPU berharap mereka yang memenuhi syarat, segera mendapatkan santunan.

"Sekarang kita fokus memberikan santunan kepada penyelenggara yang tertimpa musibah baik yang meninggal maupun yang sakit. Juknisnya (petunjuk teknis) sudah kita buat, tinggal verifikasi data-data mereka di daerah, misalnya kartu keluarga, ahli waris dan syarat administrasi lainnya," ujar Evi Novida Ginting Manik di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Evi Novida Ginting Manik tidak menampik salah satu satu penyebab banyaknya petugas KPU meninggal karena kelelahan dalam menjalankan tugas sebagai penyelenggara pemilu. Pasalnya, mereka harus bekerja dalam target waktu yang sudah ditentukan Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dan putusan Mahkamah Konstitusi. "Mungkin faktor kelelahan, target waktu kerja yang dicapai. Tetapi saya sebenarnya tidak punya kompetensi untuk menganalisis penyebab kematian mereka," ungkap Evi Novida Ginting Manik.

Namun lanjut Evi Novida Ginting Manik, berdasarkan informasi dan cerita dari keluarga korban, para petugas KPPS ini setelah bekerja sampai larut malam, langsung beraktivitas. "Bahkan ada yang tidak sempat tidur dan langsung bekerja sesuai pekerjaannya masing-masing," tandas Evi Novida Ginting Manik.

Sementara Komisioner KPU lain Ilham Saputra menegaskan bahwa KPU tetap memandang penyelenggara yang meninggal dunia saat bertugas adalah pahlawan pemilu atau pahlawan demokrasi. Menurut dia, mereka telah bekerja luar biasa untuk melayani pemilih menggunakan hak pilihnya. "Orang-orang itu (penyelenggara) adalah yang bekerja bener-benar fight, penuh integritas ya, jadi mereka datang kemudian ada perasaan yang belum selesai mereka kembali lagi dan memastikan oke, tanpa istirahat, makan, dan sebagainya," tutur Ilham Saputra.

Karena itu, Ilham Saputra mengimbau semua pihak menghormati kerja dan usaha dari penyelenggara pemilu ad hoc yang telah rela mengorbankan nyawanya demi kesuksesan penyelenggaraan pemilu. Menurut dia, tidak etis jika dilakukan investigasi, apalagi autopsi terhadap penyelenggara yang meninggal. "Kalau ada upaya meminta autopsi ya, kalau ada kecuragaan seperti itu, ya, soal etik, kita tidak menghargai perasaan keluarga (penyelenggara). Kalau saya begitu lihatnya. Tolong hormati kerja teman-teman (penyelenggara) yang sudah maksimal," pungkas Ilham Saputr.



Sumber: BeritaSatu.com