Manuver Prabowo, TKN: Indonesia Bukan Venezuela

Manuver Prabowo, TKN: Indonesia Bukan Venezuela
Capres Prabowo Subianto (tengah) bersama cawapres Sandiaga Uno dan petinggi partai pengusung mengangkat tangan saat mendeklarasikan kemenangan di Jakarta, Kamis 18 April 2019. ( Foto: Antara )
Robertus Wardi / YUD Rabu, 8 Mei 2019 | 17:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Tim Kampanye Nasional (TKN) Pasangan Calon (Paslon) Joko Widodo (Jokowi) dan Maruf Amin mencurigai Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto sedang membangun skenario untuk menjadikan Indonesia seperti Venezuela. Hal itu terlihat mobilisasi massa menentang presiden terpilih dan selanjutnya mengundang keterlibatan asing dalam masalah dalam negeri.

“Ini manuver berbahaya bagi kedaulatan nasional dan masa depan demokrasi di negara kita. Indonesia bukan Venezuela,” kata Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily di Jakarta, Rabu (8/5/2019).

Sebagaimana diketahui, Prabowo mengundang sejumlah media asing di Rumah Kertanegara, Senin (6/5/2019) malam. Pertemuan ini tertutup untuk media lokal. Di depan media-media asing tersebut, Prabowo menceritakan telah dicurangi dalam Pemilu 2019.

Ace menjelaskan pertemuan Prabowo dengan media asing ingin mencari perhatian dunia internasional atas pemilu yang dilakukan di Indonesia, bahkan mencari dukungan internasional. Namun TKN percaya masyarakat Internasional tidak akan mudah percaya atas tuduhan kecurangan itu. Apalagi tuduhan kecurangan itu tanpa disertai bukti dan data yang meyakinkan.

“Era sekarang merupakan era keterbukaan. Pemilu Indonesia tahun 2019 ini dipantau bukan saja oleh rakyat Indonesia, tetapi pemantau internasional dan media-media asing dari berbagai negara. Mereka melihat sendiri bagaimana proses penyelenggaraan pemilu, mulai persiapan, kampanye hingga pemilihannya serta tahap akhir perhitungan,” jelas Ace yang juga Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar bidang Media dan Penggalangan Opini.

Dia menegaskan TKN telah mengundang media asing untuk melihat war room perhitungan suara C1 Paslon Jokowi-Amin. Mereka diundang untuk melihat langsung proses rekapitulasi C1 versi Paslon Jokowi-Amin yang bukan hoax, klaim sepihak dan halusinasi belaka.

Dengan fakta-fakta tersebut, masyarakat internasional tidak akan mudah percaya dengan penjelasan Prabowo dan BPN. Apalagi, yang paling terakhir Perdana Menteri Inggris, Theressa May telah menyampaikan apresiasinya atas penyelenggaraan Pemilu Indonesia yang berlangsung dengan aman dan lancar.

“Pak Jokowi menang dalam versi hitung cepat dengan sangat meyakinkan. Ini kemenangan atas hoax dan juga kemenangan atas ancaman otoritarian hidup kembali. Jadi jangan bermimpi Indonesia dibuat seperti Venezuela,” tutup Ace.

Sebagaimana diketahui, saat ini negara Venezuela sedang dilanda krisis nasional, bahkan berujung pada perpecahan. Hal itu dipicu oleh pertikaian antara pemerintah dan oposisi.



Sumber: Suara Pembaruan