Pembentukan Kabinet Jokowi-Ma'ruf Tak Perlu Dibahas Dalam Waktu Dekat

Pembentukan Kabinet Jokowi-Ma'ruf Tak Perlu Dibahas Dalam Waktu Dekat
Ilustrasi kabinet kerja ( Foto: Investor Daily/David Gita Roza )
Carlos KY Paath / JEM Kamis, 9 Mei 2019 | 15:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pembentukan kabinet pemerintahan Joko Widodo-Ma'ruf Amin (Jokowi-Ma'ruf) dianggap tak perlu dibahas dalam waktu dekat. Sebab, proses Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 belum sepenuhnya rampung.

“Untuk saat ini saya kira terlalu dini membicarakan rencana pembentukan kabinet. Proses Pilpres belum selesai, kemudian kemungkinan adanya sengketa,” kata Pakar Politik dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat, Muradi kepada Beritasatu.com, Kamis (9/5/2019).

Menurut Muradi, proses koalisi pun dimungkinkan terjadi sebelum penetapan dan pelantikan anggota DPR periode 2019-2024, dan presiden serta wakil presiden terpilih. Muradi menyatakan, masih ada cukup waktu 3-4 bulan ke depan sebelum menentukan nama-nama dalam kabinet.

“Betapa pun klaim kemenangan tersebut sudah di depan mata, namun tetap harus memperhatikan dinamika politik yang akan mempengaruhi pola dan komposisi kabinet yang akan dibentuk,” ujar Muradi.

Muradi optimitis akan ada pergerakan dari masing-masing partai politik (parpol) koalisi maupun nonkoalisi. “Harus diakui hal itu akan memengaruhi peta politik dan pembentukan kabinet,” demikian Muradi.

Rangkul

Disinggung mengenai perlunya Jokowi-Ma'ruf merangkul kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi), Muradi mengatakan, hal itu tergantung pada beberapa aspek. Misalnya, penekanan bahwa upaya merangkul tersebut, bagian dari penegasan untuk kemajuan bangsa.

Selain itu juga penguatan kolektif kebangsaan yang harus tetap menjadi poin utama. Berikutnya, merangkul juga wajib sebagai upaya membangun keindonesiaan yang lebih baik. “Tidak sebatas pada pragmatisme belaka, tapi adalah bagian untuk menguatkan keeratan keindonesiaan,” tegas Muradi.

Muradi menambahkan, merangkul 02 juga dalam rangka menjaga marwah dan nilai keindonesiaan yang hakiki. “Yang berasal dari nafas dan semangat para pendiri bangsa untuk menguatkan kejayaan Indonesia,” pungkas Muradi.



Sumber: Suara Pembaruan