Ulama dan Habib Se-Jabodetabek Tolak Polarisasi Umat

Ulama dan Habib Se-Jabodetabek Tolak Polarisasi Umat
Para ulama dan habib berfoto bersama setelah acara "Silahturahmi Ulama dan Habaib Se-Jabodetabek" serta doa bersama sekaligus menyampaikan pernyataan sikap menjaga keutuhan NKRI di Jakarta Selatan, Jumat, 10 Mei 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Minggu, 12 Mei 2019 | 00:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para ulama dan habib se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mengajak masyarakat untuk bersatu kembali dan tidak terbelah atau terpolarisasi antarkelompok. Umat diminta untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi hingga terbelah menjelang penghitungan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 22 Mei mendatang.

Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cipete, Jakarta Selatan, KH Muhyiddin Ishaq berharap kepada para ulama, habib, dan mubalig untuk dapat menyejukan situasi yang kondusif sambil menunggu pengumuman dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 22 Mei nanti. Dia juga mengimbau masyarakat untuk tidak termakan berita-berita bohong (hoax).

“Kita ingin para mubalig dan ustaz menyampaikan pesan-pesan yang kondusif kepada masyarakat sambil menunggu pengumuman resmi KPU. Jangan sampai nanti masyarakat termakan dengan berita-berita bohong yang mengarah kepada perpecahan bangsa,” ujar KH Muhyiddin Ishaq di Jakarta, Sabtu (11/5/2019).

Sebelumnya, dia bersama para ulama dan habib mengelar acara “Silahturahmi Ulama dan Habaib Se-Jabodetabek”. Acara yang digelar di Jakarta, Jumat (10/5/2019) itu juga digelar untuk doa bersama sekaligus menyampaikan pernyataan sikap terkait keutuhan NKRI.

Dikatakan, acara digelar karena ada sekelompok orang yang mengatakan tekad untuk menjaga keutuhan NKRI, namun di sisi lain ada kelompok yang menunjukkan sikap memecah belah dan membuat umat terpolarisasi.

“Kami berkumpul itu berangkat dari bawah, karena melihat keprihatinan terhadap situasi bangsa saat ini. Jangan ada yang memboncengi suhu politik saat ini. Kita ingin menjaga keutuhan NKRI sambil menunggu pengumuman resmi KPU,” tuturnya.

Tokoh masyarakat Betawi, Jubaillah Yusuf menambahkan, jika melihat hasil real count KPU sudah jelas bahwa jajaran lembaga penyelenggara pemilu telah bekerja dengan sungguh-sungguh. Kerja sungguh-sungguh itu bahkan menyebabkan banyak petugas KPPS yang meninggal dunia.

“Saya turut berduka cita, semoga mereka khusnul khotimah. Digulirkannya isu-isu kecurangan, saya rasa itu hal yang sangat naif. Kasihan masyarakat yang sudah bekerja keras dan susah payah dengan saksi yang begitu banyak membantu pelaksanaan pemilu. Mustahil ada kecurangan-kecurangan,” ujar Jubaillah yang juga ketua panitia penyelenggara acara “Silaturahmi Para Ulama dan Habaib Se-Jabodetabek” itu.

Karena itu, dia mengimbau agar pada bulan suci ramadan ini seluruh umat saling menjaga agar hal-hal yang bersifat fitnah dan hoax tidak terjadi. Dia juga meminta masyarakat untuk memberikan kepercayaan penuh kepada KPU dan Bawaslu untuk terus menjalankan tugas menjalankan amanah.

“Saya berharap, dengan berkumpulnya para ulama dan habib ini bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat untuk tidak ikut-ikutan. Penyelenggaraan pemilu sudah benar, sudah baik. Jangan membuat susah aparat. Mereka juga manusia. Mereka sudah bekerja setiap hari, dari mulai kampanye, masa tenang, sampai pelaksanaan pemilu. Saya berharap kita tetap menjaga kesucian bulan Ramadan ini,” ujarnya.

Terkait adanya wacana pemilu ulang, menurut Jubaillah itu tidak masuk akal. Sebab, kata dia, KPU sebagai penyelenggara pemilu telah melaksanakan tugas dengan baik. Apalagi, semua pihak yang menjadi peserta pemilu, terutama para capres, memiliki saksi.

“Jadi, apa yang mau dilaporkan? Kalau memang punya alat bukti, sudah ada saluran hukumnya. Silakan melalui Mahkamah Konstitusi. Buat apa semua lembaga itu dibentuk, kemudian kita malah menggunakan cara-cara yang lain. Kami bukan tidak bisa mengunakan kekuatan. NU dan Banser siap. Tetapi, bukan itu. Bukan main gede-gedean seperti itu. Ini negara,” ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com