Turun 3 Kursi, PDIP Akui Pemilu 2019 Berat

Turun 3 Kursi, PDIP Akui Pemilu 2019 Berat
Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi ( Foto: Antara/Muhammad Adimaja )
Lenny Tristia Tambun / CAH Selasa, 14 Mei 2019 | 11:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sekretaris DPD PDI Perjuangan sekaligus menjadi Ketua Tim Kemenangan Daerah DKI Jokowi-Amin, Prasetio Edi Marsudi mengakui pemilihan umum (Pemilu) 2019 sangat berat. Pasalnya, Pemilu 2019 dilangsungkan pemilihan presiden dan wakil presiden bersamaan dengan pemilihan legislatif di tingkat DPR, DPRD Provinsi dan Kabupaten/Kotamadya, serta DPD.

Selain harus berkonsentrasi untuk memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diusung partai masing-masing, dan para calon legislatif (caleg) harus menyapa konstituennya agar terpilih kembali. Ternyata keberadaan partai politik baru yang visi dan misinya hampir sama menggerus perolehan suara partai politik lama.

Karena itu, PDI Perjuangan harus berpuas diri memperoleh 25 kursi di DPRD DKI periode 2019-2024, dari saat Pemilu 2014 mendapatkan 28 kursi.

“Ya suara PDI Perjuangan mungkin segmen pasarnya hampir sama dengan PSI. Ada partai baru ya menggerus perolehan kursi juga. Ada partai seperti PSI. Sehingga suara kita agak sedikit menurun, terbagi ke PSI,” kata Prasetio Edi Marsudi saat buka bersama dengan wartawan Balai Kota DKI di kawasan SCBD, Jakarta, Senin (13/5/2019).

Ia menilai, Pemilu 2019 merupakan pemilihan umum pertama yang menggabungkan pemilihan presiden dan wakil presiden dengan pemilihan legislatif. Sehingga mau tidak mau, partai politik peserta Pemilu 2019 berbarengan melakukan kampanye untuk Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif.

“Jadi saya melihat teorinya, orang lebih fokus kepada pemilihan presiden dan wakil presidn. Nah pas setelah melihat partainya, dia coblos partainya bukan calegnya lagi. Nah disini perhitungannya jadi bisa berbeda. Tetapi alhamdulillah, Jakarta masih dipercaya. PDI masih dapat 25 kursi,” ujar Prasetio Edi Marsudi.

Dengan digabungnya pemilihan presiden dan wakil presiden dengan pemilihan legislatif baik di tingkat nasional, daerah dan kabupaten/kotamadya, Prasetio menilai wajar jika Pemilu 2019 dinilai pemilu yang paling berat.

“Kami merasakan, Pemilu 2019 yang paling berat. Dari tahun 1955 sampai 2019 ini, Pemilu 2019 adalah pemilu yang sangat luar biasa. Apalagi nanti tahun 2024. Akan ditambah lagi satu pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur,” ungkap Prasetio Edi Marsudi.

Menurutnya, tidak mungkin lagi bila dalam sebuah pemilu digabungkan tiga pemilihan. Yakni pemilihan presiden, legislatif dan gubernur. Karena itu, ia meminta kepada pemerintah untuk memperbaiki sistem pemilihan umum ke depan.

“Kalau bisa Presiden dipilih DPR RI. Lalu Gubernur dan Wali Kota atau Bupati dipilih oleh DPRD DKI. Kemudian legislatif tetap dipilih oleh rakyat. Saya rasa itu lebih objektif ya,” terang Prasetio Edi Marsudi.

Tidak hanya itu, baru digabungkannya pemilihan presiden dan legislatif saja, sudah banyak petugas KPPS yang kelelahan, bahkan hingga sakit dan meninggal dunia. “Saya berbelasungkawa kepada petugas KPPS yang sudah mendahului kita,” tutur Prasetio Edi Marsudi.


Ini perbandingan perolehan kursi DPRD DKI

Partai Politik 2014-2019 2019-2024
PDIP 28 Kursi 25 Kursi
Gerindra 15 Kursi 19 Kursi
PPP 1 0Kursi 1 Kursi
PKS 11 Kursi 16 Kursi
Golkar 9 Kursi 6 Kursi
Demokrat 10 Kursi 10 Kursi
Hanura 10 Kursi 0
PKB 6 Kursi 6 Kursi
Nasdem 5 Kursi 7 Kursi
PAN 2 Kursi 9 Kursi
PSI - 7 Kursi
TOTAL 106 Kursi 106 Kursi


Sumber: BeritaSatu.com