Pergumulan Erwin Siahaan, Driver Ojol yang Lolos DPRD Kota Medan

Pergumulan Erwin Siahaan, Driver Ojol yang Lolos DPRD Kota Medan
Erwin Siahaan yang berprofesi sebagai driver ojek online lolos ke DPRD Medan mewakili PSI. ( Foto: Ist )
Arnold H Sianturi / FMB Selasa, 14 Mei 2019 | 14:55 WIB

Medan, Beritasatu.com - Sekitar 7 September 2018 lalu, merupakan kisah yang tidak pernah dilupakan Erwin Siahaan. Saat itu, driver ojek online (ojol) ini didatangi ibunya, Julianda Nababan, di rumahnya di Jalan Maju Raya, Kelurahan Kwala Bekala, Kecamatan Medan Johor. 

Julianda membawa hidangan gulai ayam, dan mengajak Erwin Siahaan bersama istrinya, Elfi Boru Purba dan dua orang anaknya, Sarah (8) dan Bento (5). Wanita tua yang berprofesi sebagai tukang urut keliling kampung itu pun kemudian menasehati Erwin.

"Aku percaya sama kau anakku, jadi kalau ini jalannya, Tuhan akan mewujudkannya. Kau tidak perlu risau dan cemas," ujar Erwin Siahaan mengulangi perkataan ibunya, Julianda. Dua hari kemudian, ibunda tercinta Erwin meninggal dunia. Erwin merasa terpukul dan sangat kehilangan.

Kenangan itu kembali diceritakan Erwin Siahaan kepada setiap orang yang datang menemuinya. Erwin menjadi pusat perhatian karena calon legislatif (Caleg) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berhasil lolos untuk mendapatkan kursi di DPRD Kota Medan.

Driver ojol ini meraih 2.038 suara dari daerah pemilihan Medan 5, yakni Medan Tuntungan, Medan Polonia, Medan Sunggal, Medan Selayang, Medan Maimun dan Medan Johor. Erwin mengaku tidak menyangka atas suara banyak itu, sehingga mengingat kenangan saat bersama ibunya.

"Sebenarnya, ada dua orang yang paling berjasa dalam perjuangan ini. Istri saya sama dengan ibuku, menceritakan mimpinya didatangi Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara, Iriana Joko Widodo, di rumah tempat kami mengontrak," katanya.

Dalam mimpi itu, Presiden dan Ibu Negara bercerita bersama Erwin dan istrinya. Mimpi itu kemudian diceritakan Elvi Purba kepada Erwin. Semula, Erwin menanggapi biasa arti dari mimpi istrinya tersebut.

Beberapa hari kemudian, Elvi kembali mendapatkan mimpi hujan deras yang mengakibatkan banjir di rumahnya. Namun, Elvi mengaku melihat kondisi air yang menggenangi sangat jernih. Mimpi itu kemudian diceritakan lagi ke suaminya.

"Aku bilang ke suamiku. 'Bang, mimpi ini seakan memiliki arti. Ini merupakan petunjuk bahwa kita akan mendapatkan rezeki besar'," ujar Elvi. Saat itu, Erwin menjawab, semoga ini merupakan pertanda berkat yang datang dari Tuhan.

Arti mimpi istrinya itu pun akhirnya terjawab. Erwin mengaku mendapatkan telepon dari rekan-rekannya, menyebutkan dirinya lolos ke DPRD Medan. Erwin mengaku sangat bahagia karena kini bisa memperbaiki ekonomi keluarganya.

"Rumah yang menjadi tempat tinggal saya masih mengontrak. Sepeda motor untuk mencari nafkah sebagai ojol masih kredit. Almarhumah ibu saya mempunyai peranan besar meminta ke Tuhan agar jalan saya dimuluskan," jelasnya.

Sebab, sambung Erwin, sehari sebelum pemilu, 17 April 2919 kemarin, dirinya bersama istri dan kedua anaknya, kembali berziarah ke makam ibunya di pekuburan Kristen di kawasan Perumnas Simalingkar B. Mereka memanjatkan doa untuk tempat terbaik ibunya dan Erwin.

"Keyakinanku semakin bertambah besar atas dorongan kedua orang anakku. Mereka terus-menerus memanjatkan doa untuk aku. Mereka juga menyampaikan kepadaku bahwa pasti menang. Ini memang luar biasa," ungkapnya.

Perjalanan politik Erwin Siahaan dalam menuju kontestasi pesta demokrasi itu memang penuh liku. Selain tidak memiliki modal, dirinya sudah dua kali mendaftar ke partai politik untuk maju sebagai caleg. Erwin Siahaan dianggap tidak memenuhi kriteria.

"Terakhir, aku bertemu teman semasa SMA, Fuad Ginting yang kini menjabat Ketua PSI Sumut. Kemudian, aku dihubungkan sama Ketua PSI Medan Fahri. Aku kemudian jadi Ketua PSI Medan Johor. Aku jatuh cinta dengan PSI karena antikorupsi, anti-intoleransi,” jelasnya.

Setelah maju sebagai caleg dari PSI dengan nomor urut 01, Erwin mengaku tidak mempunyai uang untuk sosialisasi. Apalagi, dalam pikirannya, anggaran tidak sedikit. Erwin sempat merasa kebingungan. Saat itu, ibundanya belum meninggal dunia.

Setelah ibunya meninggal dunia, keluarga Erwin menerima polis asuransi dari Prudential sebesar Rp 102 juta. Uang itu kemudian dibagi empat.

"Setiap orang mendapatkan Rp 23 juta. Untuk biaya pemakaman Rp 7 juta per satu anak, kemudian uang Erwin dipinjam agen Prudential sebesar Rp 4 juta. Dari sisa Rp 12 juta itu, saya gunakan untuk biaya kampanye,’’ ungkapnya.

Uang peninggalan ibunya itu kemudian digunakan untuk melakukan sosialisasi. Tidak sedikit orang yang mencemoohkan dirinya karena maju sebagai caleg. Bahkan, banyak orang yang menertawakan dan mengejek dirinya. Erwin mengaku tetap tenang.

"Aku bergerilya dalam melakukan sosialisasi iti. Semua visi dan misi kusampaikan dari pintu ke pintu. Aku berusaha mengetuk hati masyarakat. Aku banyak sosialisasi ke perhimpunan marga Batak, seperti marga Siahaan, kemudian masuk Nababan, masuk ke perhimpunan marga Tobing, dan marga lainnya,” sebutnya.

Erwin berjanji, setelah duduk menjadi anggota DPRD Kota Medan, dirinya akan fokus menyuarakan pembenahan dari ketimpangan infrastruktur dan pelayanan di Kota Medan. Jalan yang seperti kubangan harus diperbaiki. Selain itu, pelayanan terhadap masyarakat harus dipermudah.



Sumber: Suara Pembaruan