Puan Berpeluang Ukir Sejarah

Puan Berpeluang Ukir Sejarah
Ketua Yayasan Citra Kartini Indonesia (CIRI) Ayu Rosan memberikan penghargaan Hari Kartini kepada Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Kabinet Kerja Puan Maharani di acara Peringatan Hari Kartini bertema “Women Harmony in Diversity with Culture, Art, and Tradition" yang digelar oleh Yayasan Citra Kartini Indonesia (CIRI), Jakarta, Jumat 3 Mei 2019. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Carlos KY Paath / FMB Rabu, 15 Mei 2019 | 15:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) nonaktif, Puan Maharani berpeluang menciptakan sejarah di DPR. Jika memang diputuskan, Puan merupakan perempuan pertama yang menjabat sebagai ketua DPR.

“Andai Puan yang dipercaya, maka ia akan jadi ketua DPR pertama dari kaum perempuan. Hal ini bisa jadi preseden positif bagi keterlibatan perempuan di kancah politik Indonesia,” kata pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM), Jakarta, Silvanus Alvin kepada Beritasatu.com, Rabu (15/5).

Menurut Alvin, Puan nantinya harus menjadi contoh dan bukti konkret bahwa perempuan layak mendapatkan posisi strategis. Hal ini tentu tantangan yang tak mudah bagi Puan. “Puan pun diharapkan mampu bawa kehangatan 'tangan ibu' di tengah situasi panas yang lazim terjadi di DPR,” ucap Alvin.

Alvin menuturkan, menguatnya nama Puan sebagai ketua DPR, sudah disiapkan dengan matang. “Beberapa hal yang saya lihat bahwa Puan itu pantas dan layak menjabat ketua DPR,” tutur lulusan program master Universitas Leicester, Inggris tersebut.

Sebagai trah Sukarno, Alvin mengungkap, tentuk berdampak cukup besar bagi anggota parlemen. Alvin menyatakan, Puan sudah berpengalaman di bidang legislatif dan eksekutif. Perlu diingat, lanjut Alvin, Puan pernah menjadi ketua fraksi PDIP di DPR.

Sejak 2014, Puan pun dipercaya sebagai Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. “Dengan pengalaman tersebut, maka Puan dapat menjadi jembatan yang baik bagi elite politik. Puan memang harus lebih memperkuat proses lobi, khususnya terhadap oposisi,” kata Alvin.

Alvin menambahkan, Puan bisa saja mengadopsi strategi meja makan yang kerap dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi). “Supaya ke depan tidak ada tensi politik yang tinggi di DPR, sehingga stabilitas negara bisa terwujud,” tegas Alvin.



Sumber: BeritaSatu.com