Sony Subrata: Menteri Jokowi Harus Kuat, Enerjik, dan Siap Dikomplain Keluarga

Sony Subrata: Menteri Jokowi Harus Kuat, Enerjik, dan Siap Dikomplain Keluarga
Joko Widodo. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / WM Rabu, 15 Mei 2019 | 21:28 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com -  Pasangan capres-cawapres nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin diprediksi bakal keluar sebagai pemenang Pilpres 2019. Setidaknya, berdasarkan Sistem Penghitungan Pemilu (Situng) Komisi Pemilihan Umum (KPU) sejauh ini, dari 83,52% suara yang masuk, pasangan Jokowi-Ma'ruf meraih suara 56,22% sementara pasangan Prabowo-Sandi meraih 43,78%.

Kemenangan sementara yang diraih Jokowi-Ma'ruf sejauh ini memunculkan prediksi nama-nama yang bakal mengisi Kabinet pemerintahan Jokowi-Ma'ruf. Salah satu nama yang digadang bakal masuk kabinet yakni, Sony Subrata. Sebuah survei yang beredar di berbagai grup percakapan WhatsApp menyebutkan nama Direktur lembaga analisa media sosial PoliticaWave itu muncul sebagai salah satu kandidat Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo).

Nama Sony Subrata disebut seiiring dengan aktivitas lembaga yang dipimpinnya yang kerap memberikan prediksi terkait hasil hasil Pilpres, Pileg, dan Pilkada di Indonesia. Sistem Algoritma PoliticaWave menganalisa percakapan di media sosial dan media online sejak tahun 2012 hingga sekarang.

Dikonfirmasi mengenai namanya sebagai calon menteri ini, Sony mengakui mendukung berbagai kebijakan yang diambil oleh Pemerintahan Jokowi. Namun, Sony menyatakan tidak berminat menjadi seorang menteri. Sony mengaku masih menikmati kehidupannya sebagai periset.

"Saya tidak tertarik menjadi Menteri atau pejabat apapun. Saya sudah cukup senang dengan kehidupan saya saat ini. Saya bisa melakukan riset terkait beragam isu publik, bisa berdiskusi dengan berbagai kalangan pengambil kebijakan, serta masih ada waktu bersama keluarga hingga beristirahat dengan santai di rumah," kata Sony, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Sony mengaku seorang menteri Jokowi akan menyita waktunya. Hal ini setidaknya tercermin dari ritme kerja Jokowi selama memimpin periode 2014-2019. Untuk itu, menjadi menteri Jokowi apalagi pada pemerintahan periode 2019-2024, kata Sony harus siap bekerja keras, dan dikomplain oleh istri atau keluarga.

"Kalau menjadi menteri di eranya Jokowi, apalagi di periode 2019-2024 mendatang, bersiaplah untuk kerja ekstra keras dan lembur tanpa batas waktu. Dan juga bersiaplah di komplain istri dan keluarga, karena akan mengikuti ritme kerja Pak Jokowi yang akan jauh lebih intens daripada periode sebelumnya," ungkapnya.

Sony diketahui berlatar belakang pendidikan di bidang strategi komunikasi. Sony yang mengenyam pendidikan di University of New South Wales, Australia, acapkali berdiskusi dan bertukar pikiran dengan sejumlah aktivis, akademisi hingga petinggi lembaga Pemerintahan untuk membahas masa depan Indonesia.

"Saya ini tipikal pekerja keras saat masih duduk di bangku kuliah. Tetapi yang saya perhatikan, Pak Jokowi ini kerjanya jauh lebih keras daripada saya. Indonesia perlu pemimpin dan sekaligus pelayan publik seperti Pak Jokowi," katanya.

Dikonfirmasi mengenai kedekatannya dengan Jokowi, Sony mengelak. Dikatakan, Jokowi dekat dengan banyak kalangan. Dibanding orang-orang yang berada di dekat Jokowi, Sony mengaku prestasinya masih jauh.

"Lagipula Pak Jokowi kan selalu dekat dengan berbagai kalangan masyarakat. Calon menteri itu sangat banyak dan hebat-hebat. Apalagi untuk posisi Menteri Komunikasi dan Informatika. Coba lihat kerja keras Pak Rudiantara. Saya nggak yakin ada banyak orang yang mau kerja keras seperti beliau. Saya sih jelas nggak sanggup. Cari orang lain saja," ungkapnya

Sony meyakini Kabinet Jokowi mendatang akan diisi oleh sosok-sosok muda yang tangguh, enerjik dan tahan banting. Untuk itu, Sony mengaku belum layak masuk jajaran kabinet.

"Lagipula Pak Jokowi butuh sosok menteri-menteri yang muda. Usia saya saat ini lebih dari 50 tahun. Sudah lewat masa saya. Sekarang waktu yang tepat bagi anak-anak muda untuk duduk di Kabinet demi masa depan Indonesia yang lebih cerah. Selain itu, saya berharap bisa melihat lebih banyak kaum perempuan duduk di Kabinet. Saya yakin kalau perempuan di Indonesia itu hebat-hebat dan bisa berkontribusi di bidang pelayanan publik secara strategis," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan