Tim IT BPN Mengaku Akun WhatsAppnya Diretas

Tim IT BPN Mengaku Akun WhatsAppnya Diretas
Tim IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) menjabarkan dugaan kecurangan yang terjadi pada acara Mengungkap Fakta-Fakta Kecurangan Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) di Jakarta, Selasa (14/5/19). Dalam acara yang dihadiri ribuan simpatisan dan partai pendukung Paslon 02 itu dinyatakan bahwa BPN menolak hasil perhitungan sementara KPU karena dianggap banyak kecurangan. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: BeritaSatu photo / Mohammad defrizal )
Yeremia Sukoyo / FMB Kamis, 16 Mei 2019 | 09:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim IT Badan Pemenangan Nasional (BPN) Hairul Anas telah memaparkan berbagai dugaan kecurangan Pemilu 2019 saat simposium "Mengungkap Fakta-fakta kecurangan Pilpres 2019" di Grand Sahid Jaya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (14/5/2019) lalu.

Hairul memaparkan temuan kecurangan bersama dengan sejumlah tokoh lain seperti ekonom Rizal Ramli, Tim Pakar Prabowo-Sandi Laode Kamaluddin dan Ketua Tim Cyber Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Agus Maksum.

Namun demikian, pascasimposium tersebut, justru akun WhatsApp sarjana teknik lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut justru diretas oleh orang tidak dikenal. Informasi tersebut didapat dari akun jejaring sosial facebook Hairul Anas Suaidi.

"Dulu-dulu saya kurang yakin ada yang bisa sadap dan bobol nomor/akun di aplikasi berkelas. Sekarang saya mengalami sendiri," kata Hairul Anas, seperti yang ditulis di akun Facebooknya, Kamis (16/5/2019).

Hairul menuturkan, nomor WA miliknya 0818432110 telah diretas dan dirinya meminta untuk mengeluarkan nomor tersebut dari seluruh grup yang menyertakan dirinya. Diceritakan, akun WA diretas tidak lama setelah akun aplikasi Go-Jeknya diretas.

Sebelumnya, Hairul Anas merupakan salah satu pakar yang dihadirkan dalam simposium "Mengungkap Fakta-fakta kecurangan Pilpres 2019" yang dihadiri Prabowo-Sandiaga dan hampir seluruh pejabat BPN.

Dalam kesempatan itu, Hairul mengungkap sejumlah dugaan kejanggalan. Mulai dari jumlah TPS tidak konsisten, data jumlah DPT yang juga tidak konsisten, hingga dugaan keganjilan list TPS.

Hairul juga mengaku memiliki dan menciptakan robot yang merekam seluruh proses sistem penghitungan suara KPU dari menit ke menit dan memiliki bukti data monitoring ada yang tidak sesuai matematik.

Menyikapi kondisi ini, chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC Pratama Persadha, menjelaskan, meskipun WhatsApp mengklaim bahwa kasus ini hanya terjadi pada segelintir pengguna yang telah ditargetkan. Namun kejadian ini harus menjadi perhatian bersama.

"Sebagai pengguna sudah semestinya berhati-hati ketika melakukan komunikasi. Kasus penyusupan spyware pada WhatsApp menunjukan bahwa aplikasi pesan instan paling populer di dunia ini memiliki celah keamanan yang dapat ditembus," kata Pratama.

Pratama menjelaskan bahwa bahaya dari spyware ini tidak hanya mencuri data percakapan saja, tetapi juga bisa mengambil alih sistem operasi. Bahkan konon bisa menginfeksi saat korban mengangkat panggilan WhatsApp dari nomor penyerangnya.

Agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan, Pratama menghimbau kepada seluruh pengguna WhatsApp agar segera melakukan pembaharuan sistem, baik untuk platform iOS atau Android. Tim WhatsApp sudah melakukan pembaharuan untuk menutupi celah tersebut. 



Sumber: Suara Pembaruan