PSI: Prabowo-Sandi Peserta Pemilu Terburuk Sepanjang Sejarah

PSI: Prabowo-Sandi Peserta Pemilu Terburuk Sepanjang Sejarah
Karangan bunga Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk Komisi Pemilihan Umum (KPU). ( Foto: Beritasatu.com / Yustinus Paat )
Yustinus Paat / MPA Jumat, 17 Mei 2019 | 18:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com-Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedek Prayudi menilai Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno merupakan peserta pemilu terburuk sepanjang sejarah. Menurut Dedek, bukan Pemilu 2019 yang merupakan Pemilu terburuk.

"Namun, Prabowo-Sandi-lah yang merupakan peserta Pemilu terburuk sepanjang sejarah. Pemilu bukan soal kemenangan kandidat. Pemilu adalah soal kemenangan rakyat. Jangan khianati kehendak rakyat demi syahwat berkuasa," ujar Dedek di Jakarta, Jumat (17/5/2019).

Dedek mengaku aneh dengan sikap Prabowo-Sandi dan timnya. Sebelum pemilu, kata dia, survei disalahkan dan setelah pemilu ada quick count, quick count pun juga disalahkan.

"Lalu real count KPU, juga disalahkan. Ditantang buka data, tak pernah berani. Ditantang menggugat ke MK, menolak. Semua salah, seolah kebenaran miliknya sendiri," tandas dia.

Demokrasi, kata Dedek, menjamin bahwa kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat. Hal ini tertuang dalam konstitusi dan diatur mekanisme aspirasi rakyat ditampung dalam bernegara melalu Undang-Undang.

"Turunan dari konstitusi, yakni UU, adalah kesepakatan yang juga mengatur aturan main bagaimana mekanisme aspirasi rakyat ditampung dalam bernegara, salah satunya adalah Pemilu," ungkap dia.

Menurut dia, Undang-Undang juga memberikan ruang bagi para peserta Pemilu yang tidak puas dengan pelaksanaan dan hasil pemilu, baik itu melalui jalur Bawaslu dan MK. Dia menilai Prabowo-Sandi menolak hasil Pemilu merupakan hak konstitusional mereka. UU membolehkan itu, dan mekanismenya adalah gugatan di MK.

"Bahwa penolakan ini berwujud ajakan untuk pendukung menggeruduk KPU, menolak mengakui pemerintahan yang sah, apalagi menolak untuk membayar pajak, itu menjadikan Paslon 02 menjadi Paslon terburuk sepanjang sejarah Pemilu di negeri ini. Kami menangkap bahwa ini bukan lagi upaya mendeligitimasi Pemilu, tapi juga pemerintahan yang sah, dan pembangkangan terhadap UU," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com