Saksi BPN Tolak Teken Rekapitulasi Suara DKI

Saksi BPN Tolak Teken Rekapitulasi Suara DKI
Ilustrasi Pemilu 2019. ( Foto: AFP )
Robertus Wardi / YUD Sabtu, 18 Mei 2019 | 18:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pasangan Calon (Paslon) nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) dengan Ma'ruf Amin unggul 213.410 suara dari penantangnya Paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno untuk wilayah DKI Jakarta. Dengan keunggulan tersebut, ‎Jokowi-Amin berhak meraih kemenangan untuk wilayah DKI Jakarta dalam Pilpres 17 April lalu.

‎Rekapitulasi ini dihadiri saksi dari paslon 01 Jokowi-Maruf Amin, saksi paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, juga saksi masing-masing parpol. Rapat rekapitulasi juga dihadiri Ketua Bawaslu Abhan dan anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin.

Meski hadir dalam proses rekapitulasi, namun saksi dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menolak menandatangani hasil rekapitulasi KPU DKI Jakarta. Aziz Subekti yang tampil sebagai saksi mengkritik adanya selisih 213.410 suara ketika dihitung melalui jumlah daftar pemilih khusus (DPK).

Pasalnya saat dia mengurangi jumlah suara Paslon 01 dan 02, tidak mencapai angka tersebut. Data menggunakan DPK DKI sebanyak 221.536 suara.

"Kami tidak tandatangani bukan berarti enggak hargai. Kami tidak tandatangani untuk menghargai kepada mereka yang berjuang dalam menegakan demokrasi," tuturnya.

Hasil rekapitulasi yang digelar di kantor KPU, Jln Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Sabtu (18/5/2019) menunjukkan ‎Paslon 01 meraih 3.279.547 suara. Adapun Paslon 02 meraih 3.066.137 suara. Jumlah pemilih DKI pada Pemilu 17 April lalu mencapai 6.425.574 suara.‎ Jumlah suara sah sebanyak 6.345.684 suara dan yang tidak sah 79.890 suara.

"Alhamdulillah, rekapitulasi Provinsi DKI Jakarta sah," kata komisioner KPU Hasyim Asy'ari yang memimpin sidang rekapitulasi.



Sumber: Suara Pembaruan