PBNU Ajak Warganya Isi Bulan Puasa dengan Beribadah dan Hindari Aksi 22 Mei

PBNU Ajak Warganya Isi Bulan Puasa dengan Beribadah dan Hindari Aksi 22 Mei
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj (kedua kiri) bersama Mustasyar PBNU yang juga Cawapres nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin (dua kanan), Rais Aam PBNU Miftahul Akhyar (kanan), dan Rais Syuriah PBNU KH Ali Akbar Marbun (kiri) dalam silaturahmi di gedung PBNU, Jakarta, Senin 22 April 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Maria Fatima Bona / FMB Senin, 20 Mei 2019 | 19:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj meminta warga Nahdlatul Ulama untuk tidak mengikuti aksi 22 Mei memprotes hasil Pemilu 2019 di kantor KPU di Jakarta. Bulan Ramadan seharusnya diisi dengan kegiatan yang memperkuat silaturahmi dan amal ibadah.

“Soal perbedaan pendapat, mari bersama-sama kita sikapi dengan dewasa dan bijaksana. Jika ada pihak yang merasa tidak puas dengan hasil pemilu, silakan menempuh prosedur yang konstitusional ke Bawaslu atau ke Mahkamah Konstitusi. Itulah cara yang mulai, elegan, dan beradab,” kata Aqil Siroj dalam siaran pers yang diterima SP, Senin (20/5/2019).

Menurut dia, demokrasi bukan berarti bebas sebebas-bebasnya. Ada aturan, prosedur, dan tata cara yang disepakati dan dijunjung bersama. Jangan sampai ada pihak yang salah mengartikan demokrasi dan memaknainya sebagai kebebasan untuk berkehendak.

“Mari tetap khusyuk menjalankan ibadah puasa. Tetap bekerja untuk kelangsungan hidup keluarga dan tidak perlu ikut aksi 22 Mei 2019. Saya meminta warga Nahdlatul Ulama untuk tidak ikut-ikutan rencana aksi 22 Mei 2019. Tetap khusyu menjalankan ibadah dan bekerja untuk kemaslahatan keluarga. Itulah jihad yang sebenarnya,” ungkap Aqil Siroj.

Aqil Siroj juga menambahkan, Ramadan adalah bulan yang seyogyanya diisi dengan serangkaian amal ibadah yang positif dan luhur sesuai dengan anjuran Allah SWT. Oleh karena itu, PBNU mengajak umat untuk bersama-sama menyemarakkan Ramadan dengan tarawih, tadarus, mengaji, memperkuat silaturahim dan amal ibadah yang bermanfaat lainnya.

“Mari bersama-sama meninggalkan perbuatan-perbuatan yang membuat puasa kita menjadi percuma dan tak bernilai. Tidak ada gunanya dan percuma berpuasa jika masih gemar menyebarkan hoax dan menggunjing. Percuma menjalankan ibadah puasa kalau tidak disertai dengan usaha menjaga mulut dan jari-jari agar tidak menyebarkan berita bohong, fitnah dan adu domba,” tegasnya.

Sebelumnya, Sekjen Pengurus Besar Nahdathul Ulama (PBNU) Helmy Faishal Zaini mengimbau warga NU tidak perlu datang ke Jakarta untuk melakukan aksi people power. PBNU meminta warganya memanfaatkan Ramadan untuk beribadah.

“Lebih baik kesempatan di bulan Ramadan digunakan untuk perbanyak wirid dan menyemarakkan bulan suci dengan mengadakan berbagai kegiatan keagamaan dan pengajian,” kata Helmy

Menurut dia, apapun hasil penghitungan KPU harus dihormati dan dihargai. Dalam hal ini, warga NU diminta untuk menjadi warga negara yang baik dengan tetap mematuhi keputusan tersebut serta menghargai proses demokrasi melalui pemilihan umum yang sudah dilakukan bersama-sama.

Sementara itu, kepada pihak-pihak yang merasa berkeberatan dengan hasil KPU, bisa menempuh jalur hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan. “Mari bersama-sama menjaga situasi agar tetap kondusif, aman dan juga tertib. Mari terus menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sebagai bagian dari menjaga amanat agama dan juga pendiri bangsa kita,”ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan