Komnas HAM Angkat Bicara soal Bentrok di Tanah Abang

Komnas HAM Angkat Bicara soal Bentrok di Tanah Abang
Ahmad Taufan Damanik. ( Foto: Antara )
Erwin C Sihombing / YS Rabu, 22 Mei 2019 | 18:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Komnas HAM angkat bicara terkait bentrokan antara massa demonstran dan aparat yang terjadi di Tanah Abang, sejak Selasa (21/5) malam, dan secara sporadis berlanjut hingga Rabu (22/5/2019) petang.

Menurut Komnas HAM, warga sekitar turut menjadi korban akibat bentrokan tersebut.

Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan turut menyesalkan terjadinya kericuhan dari massa aksi yang menolak dibubarkan aparat. Sepatutnya, penegak hukum memastikan kondisi keamanan dan memastikan tidak tersumbatnya hak menyatakan pendapat di muka umum.

"Sejak awal kami membuat seruan, siapapun menyatakan pendapat di depan umum, itu harus dihormati sebagai suatu proses demokrasi tanpa keluar dari kaidah hukum. Artinya penegak hukum harus menjaga hak orang yang menyalurkan pendapat," kata Taufan seusai meninjau RSUD Tarakan.

RSUD Tarakan menerima 140 pasien dari bentrokan di Tanah Abang.Taufan bersama tim dari Komnas HAM menemukan adanya warga yang tidak terlibat demonstrasi turut menjadi korban.

Dia mengatakan, pihaknya bakal melakukan penyelidikan terkait jatuhnya korban hingga ada korban tewas di setiap rumah sakit di Jakarta.

"Kita belum mengetahui apakah korban tewas akibat peluru karet atau tajam. Tetapi di RSUD Tarakan ada dua yang tewas," katanya.

Demonstrasi di depan Kantor Bawaslu, Thamrin, Jakarta, berlangsung lancar. Sementara bentrokan beberapa kali terjadi di wilayah Tanah Abang hingga Slipi. Belum diketahui secara pasti kerugian yang ditimbulkan akibat peristiwa ini.

Gubernur DKI Anies Baswedan yang turut meninjau Kantor Bawaslu dan wilayah Slipi mengimbau warga untuk menjauhi wilayah Tanah Abang. Namun, gubernur menegaskan kondisi Jakarta secara umum relatif aman dan meminta warga untuk beraktifitas normal.

Sementara di depan Kantor Bawaslu, Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais, yang pertama kali menyerukan "people power" menentang hasil pemilu, meminta massa untuk tidak melakukan tindak kekerasan dalam menyalurkan aspirasinya.

"Saya sampaikan terus berjuang. Tidak ada kata kekerasan, tidak merusak bangunan, tapi saya sarankan rakyat menjadi pemenang," kata Amien.



Sumber: Suara Pembaruan