Kerusuhan 21-22 Mei Tidak Dibenarkan dalam Ajaran Islam

Kerusuhan 21-22 Mei Tidak Dibenarkan dalam Ajaran Islam
Demonstran menggelar Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu 2019. ( Foto: Antara Foto / Indrianto Eko Suwarso )
Yustinus Paat / FMB Kamis, 23 Mei 2019 | 09:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo Jawa Timur, KH Agus Ali Masyhuri yang akrab disapa Gus Ali menilai kericuhan di sekitar Pasar Tanah Abang, Rabu (22/5/2019) sebagai tindak kriminal dan kekerasan. Karena itu, Gus Ali berharap pihak kepolisian harus mengusut tuntas pelaku kekeraan tersebut.

"Aksi tersebut jangan-jangan tidak terkait dengan Pemilu. Demo ke Bawaslu apa Tanah Abang? Kalau ke Tanah Abang ini tidak nyambung dengan Pemilu. Polisi harus memetakan itu,” kata Gus Ali, Rabu (22/5/2019).

Sementara itu, Ketua PWNU NTB Masnun Tahir menilai aksi kericuhan di sekitar kantor Bawaslu hingga Pasar Tanah Abang sejak Selasa (21/5/2019) malam tidak dibenarkan dari sudut pandang ajaran Islam. Pasalnya, Islam mengajarkan bil khihmah wal mauizatul khasanaha wal mujahadah khasanah untuk menyampaikan aspirasi dan suatu ajakan.

“Polanya (demo dan kericuhan) di luar tradisi kita,” kata Masnun.

Masnun menilai aksi tersebut mungkin saja dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak melakukan tabayun atau klarifikasi hingga menimbulkan hoaks dan fitnah. Dia menilai aksi tersebut mempirhatinkan karena yang menjadi korban adalah rakyat biasa, sementara sebagian elite tidak mau tahu.

"Bentrokan tersebut sangat disesalkan karena dengan cara-cara anarkistis, apalagi dilakukan di bulan puasa dapat mencederai kesucian bulan yang harusnya diisi dengan peringatan nuzulul Quran. Aksi demo yang diwarnai kericuhan tidak mencerminakan etika dan akhlak Islam," kata dia.

Dia mengimbau aparat keamanan yang bertugas untuk tetap preventif dengan mengedepankan persuasif, jangan sampai melakukan tindak anarkistis. “Aparat melakukan yang benar pun dianggap salah, apalagi melakukan kesahalah, lebih disalahkan lagi. Sebagai aparatur negara harus santun dan sabar, karena rakyat kita butuh pemahaman dan penyadaran,” paparnya.

Kepada elite politik, Masnun mengimbau agar dapat duduk bersama memikirkan kepentingan bangsa, serta solusi bersama-sama menyelesaiakan persoalan bangsa. Para elite harus mampu menunjukkan cara-cara negarawan, menjadi politisi yang santun.

“Juga menghargari perbedaan, karena pemilu adalah permainan, sedangkan sunatullah kalah menang itu takdir. Semangat negarawan harus dipegang teguh untuk mampu membangun dan menjaga NKRI, sehingga jangan memprovikasi atau mengeluarkan statement yang bernada provokasi, apalagi mengajak pada tindakan inkonstitusional," pungkas dia.



Sumber: BeritaSatu.com