IPW: Ungkap dan Tangkap Dalang Demonstrasi Rusuh

IPW: Ungkap dan Tangkap Dalang Demonstrasi Rusuh
Petugas Kepolisian Brimob menghalau massa yang tidak terkendali usai aksi unjuk rasa di depan gedung Bawaslu RI, Jakarta Pusat, Rabu 22 Mei 2019 malam. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao )
Yustinus Paat / YS Kamis, 23 Mei 2019 | 15:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengapresiasi kesabaran aparatur TNI Polri dalam menghadapi aksi demonstran yang anarkis selama dua hari di Jakarta. Namun, Neta meminta Polri sebagai institusi penegak hukum harus segera mengungkapkan, siapa dalang dan siapa yang membiayai aksi demo yang berlanjut rusuh tersebut.

"Kita apresiasi kesabaran TNI-Polri sembari meminta mereka segera mengungkapkan, siapa dalang dan siapa yang membiayai aksi demo yang berlanjut rusuh tersebut," ujar Neta dalam keterangannya, Kamis (23/5).

Dikatakan, IPW menilai ada empat poin yang perlu diusut dan dijelaskan Polri secara transparan kepada publik. Pertama, Polri sudah menyita satu mobil ambulans berlogo Partai Gerindra yang diduga menyuplai batu untuk demonstran, siapa pemiliknya dan siapa otak penyuplai batu untuk melempari aparat itu?

"Kedua, Polri sudah menyita sejumlah uang dari sejumlah demonstran yang diduga pelaku kerusuhan, sehingga Polri mengatakan mereka adalah massa bayaran," ungkap dia.

Ketiga, lanjut Neta, Polri harus mengungkapkan, siapa pelaku penembakan dengan peluru tajam yang menyebabkan sejumlah orang tewas dan terluka. Lalu apa kaitannya dengan penemuan ratusan butir peluru tajam di lokasi kerusuhan?

"Keempat, Polri dan TNI sudah menahan jenderal purnawirawan yang juga tim kampanye Capres 02 yang diduga terlibat dalam penyelundupan senjata api laras panjang," tuturnya.

Menurut Neta, empat hal ini perlu dijelaskan kepada publik, terkait kontribusi empat hal tersebut dalam aksi demo yang berlanjut pada kerusuhan selama dua hari di Jakarta. Selain itu, kata dia, Polri harus mengusutnya dengan tuntas agar diketahui, apakah aksi demo yang rusuh itu diorganisasi secara masif atau hanya ulah oknum oknum tertentu di balik pendukung 02.

"Begitu juga dengan adanya temuan Polri bahwa adanya masa bayaran, siapa yang membayar harus segera dikejar dan ditangkap aparat kepolisian. Apakah yang bersangkutan figur partai, pengusaha, atau anak mantan penguasa. Hal ini agar diketahui apakah penyandang dana itu sebuah kelompok yang masif atau perorangan. Polri perlu bekerja cepat agar pihak pihak yang bermain main dengan kerusuhan tersebut bisa disapu bersih, sehingga mereka tidak lagi membuat kekacauan pada saat pelantikan presiden terpilih di Pilpres 2019," tutur dia.



Sumber: Suara Pembaruan