Muhammadiyah Hormati Peserta Pemilu yang Selesaikan Sengketa di MK

Muhammadiyah Hormati Peserta Pemilu yang Selesaikan Sengketa di MK
Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir. (Sumber: sp.beritasatu.com)
Yustinus Paat / JEM Kamis, 23 Mei 2019 | 15:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum PP Muhamadiyah Haedar Nashir meminta kepada peserta pemilu khusus pasangan calon presiden dan wakil presiden menyelesaikan sengketa hasil pemilu melalui jalur konstitusional di Mahkamah Konstitusi (MK). Pihaknya, kata Haedar akan sangat menghormati jika persoalan hasil pemilu diselesaikan melalui mekanisme hukum yang tersedia.

"Kami mengapresiasi sikap dan langkah pasangan calon presiden-wakil presiden yang bersaing secara sehat dan menyelesaikan masalah Pemilu melalui jalur konstitusional di MK," ujar Haedar Nashir dalam keterangan persnya, Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Haedar pun berharap MK benar-benar menyerap aspirasi dan menjalankan fungsinya secara adil, objektif, profesional, independen, dan bebas dari kepentingan apapun dalam menangani perkara sengketa hasil pemilu. MK, kata dia, tidak boleh menutup mata dari permasalahan, pelanggaran, dan kecurangan yang memiliki alat bukti yang kuat dengan benar-benar berdiri tegas di atas konstitusi sehingga dapat memenuhi tuntutan keadilan.

"Keputusan MK nantinya harus dihormati dan semua pihak harus mengakhiri proses politik Pemilu 2019 secara konstitusional serta kembali bersatu dan membangun Indonesia yang sarat tantangan ke depan," tandas dia.

Muhammadiyah, kata Haedar juga mengapresiasi sikap bijak paslon yang sudah menyampaikan pernyataan-pernyataan positif dalam menghadapi situasi politik nasional mutakhir. Hal tersebut, menurut dia, tentu harus diikuti oleh para tim sukses, pendudukung, dan semua pihak yang terlibat untuk mengedepankan sikap politik berjiwa kenegarawanan agar seluruh proses demokrasi ada akhirnya dengan baik dan konstitusional.

"Kami juga mengajak para tokoh agama, elit politik, pejabat publik, media massa, para netizen, dan warga bangsa untuk dapat menciptakan suasana yang sejuk dan damai demi kerukunan dan persatuan nasional," tutur dia.

Semua pihak, lanjut Haedar, harus menghindari pernyataan-pernyataan dan tindakan yang dapat memanaskan dan memperkeruh keadaan yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tak hanya itu, kata Haedar, media sosial juga hendaknya dijadikan saluran yang menciptakan suasana tenang, damai, bersatu, dan berkeadaban mulia serta dihentikan dari memproduksi hoaks, keresahan, kebencian, perseteruan, dan permusuhan sesama keluarga bangsa Indonesia.

"Kepada masyarakat, khususnya warga Persyarikatan Muhammadiyah, untuk tidak terpengaruh oleh informasi dan pesan-pesan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dengan mengedepankan sikap kritis, damai, bijak, dan dewasa disertai ikhtiar menjalin ta’awun atau kerjasama dengan berbagai pihak untuk kerukunan, kemajuan, dan persatuan bangsa," pungkas Haedar.



Sumber: Suara Pembaruan