Jokowi Menang Lagi, Estetika Institute Sarankan Perjuangkan Hak Perempuan

Jokowi Menang Lagi, Estetika Institute Sarankan Perjuangkan Hak Perempuan
Joko Widodo. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / YS Kamis, 23 Mei 2019 | 16:24 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) telah memutuskan pasangan calon presiden Jokowi-KH Ma’ruf Amin sebagai kandidat terpilih dalam Pilpres 2019. Hal ini telah menjadi puncak dari pesta demokrasi yang telah banyak menyita perhatian publik selama ini.

Pada periode kedua pemerintahan Jokowi kedepan tentu banyak harapan terutama perbaikan nasib hak perempuan yang masih dirasa belum tercapai pada periode sebelumnya.

Estetika Handayani selaku direktur Estetika Institute mengucapkan selamat atas terpilihnya Jokowi kembali untuk dua periode. Menurutnya ini menjadi kesempatan yang baik bagi presiden baru untuk membuktikan kinerja dan perhatian lebihnya kepada hak perempuan.

“Setelah kesadaran perempuan dalam politik meningkat, hak perempuan jangan lagi lalai diperhatikan,” jelas Handayani di Jakarta, Kamis (23/5/2019).

Sama dengan semua harapan kalangan perempuan, Estetika Institute memberikan saran rekomendasi penting untuk pemerintahan Jokowi ke depan.

Pertama, partisipasi perempuan dalam ruang publik dan peran perempuan dalam kelembagaan formal maupun non-formal terus ditingkatkan.

"Kedua, perlindungan hukum perempuan dan pemberdayaan yang memiliki dampak kesejahteraan serta akses kepada hak-haknya yang lebih luas," ungkap dia.

Ketiga, lanjut Handayani, diharapkan setiap kebijakan dalam berbagai lini memiliki pengaruh positif langsung bagi perempuan.

Keempat, memberikan pendidikan kesadaran politik sebagai dasar pemupukan partisipasi politik lebih tinggi bagi kualitas demokrasi.

"Kelima, memberikan wadah perekonomian bagi perempuan pedesaan sebagai upaya menekan tumbuhnya TKW ilegal karena terdorong motif rendahnya ekonomi," tutur dia.

Handayani menegaskan, lima hal itu bukan masalah baru, namun cenderung diabaikan. Padahal, kualitas demokrasi beberapa waktu lalu ditangguhkan peran perempuan.

“Bicara keadilan perempuan jelas sudah dibuktikan dalam partisipasi mereka di Pemilu 2019, tentu Pak Jokowi harus lebih sensitif gender,” tambahnya.

Berdasarkan data KPU, suara perempuan menjadi penentu karena jumlahnya mencapai sekitar 95 juta dari total DPT, baik itu pemilih lama maupun pemula.



Sumber: Suara Pembaruan