Pertemuan Jokowi dan Habibie, Persatuan Bangsa Tak Bisa Ditawar

Pertemuan Jokowi dan Habibie, Persatuan Bangsa Tak Bisa Ditawar
Presiden Joko Widodo (kanan) mengantar Presiden ketiga RI BJ Habibie (kiri) usai melakukan pertemuan tertutup di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5/2019). Dalam pertemuan tersebut BJ Habibie mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo untuk periode 2019-2024 berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, serta berpesan agar proses pemilu tidak membuat bangsa pecah dan menghambat pembangunan. ( Foto: ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari )
Carlos KY Paath / JAS Jumat, 24 Mei 2019 | 18:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Persatuan bangsa senantiasa harus diutamakan oleh seluruh pihak. Demikian salah satu poin pembahasan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden Ketiga RI BJ Habibie di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (24/5).

“Tadi kan sudah jelas sekali disampaikan oleh Pak Habibie bahwa urusan persatuan itu sudah tidak ada tawar menawar lagi. Tadi saya sepakat,” kata Jokowi kepada wartawan seusai menerima Habibie. Jokowi juga menegaskan, dirinya tak pernah menutup pintu bagi siapapun yang ingin bekerja sama.

“Saya sampaikan berkali-kali. Saya terbuka untuk siapa pun bersama-sama bekerja sama untuk memajukan negara ini. Untuk membangun negara ini. Siapa pun,” ujar calon presiden (capres) 01 tersebut.

Sebelumnya, Habibie menyatakan, kondisi bangsa sekarang tak bisa disamakan dengan ketika awal Reformasi 1998. “Kalau disamakan dengan keadaan waktu tahun 1998, it's not true (itu tidak benar),” kata Habibie.

Di sisi lain, Habibie menilai Jokowi merupakan ujung tombak generasi penerus. Habibie pun mengaku telah melewati tiga generasi. “Generasi 45 jiwanya penting. Menjadikan kita begini. Generasi peralihan adalah saya. Definisinya kerja sama dengan generasi 45 dan generasi penerus,” ucap Habibie.

Habibie menuturkan, Indonesia berhasil melaksanakan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden secara langsung pada 2004. Ketika itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipercaya oleh mayoritas rakyat sebagai Presiden Keenam RI.

“Yang pertama kali dipilih langsung adalah Pak SBY. (Presiden) yang lain (sebelumnya) masih melalui MPR. Jadi dalam hal ini, SBY masih generasi peralihan seperti saya,” demikian Habibie. Pada kesempatan itu, Habibie mengucapkan selamat kepada Jokowi.

“Insyaallah beliau bisa melanjutkan program sesuai rencana, dan kita semua membantu supaya terlaksana,” kata Habibie.

Disinggung mengenai perlunya rekonsiliasi pascapemilu, Habibie mengaku tak membahas itu dengan Jokowi.

“Bukan soal itu (rekonsiliasi) yang saya bicarakan dengan Presiden. Tapi saya harus lihat bagian perkembangan di lapangan,” ujar Habibie.



Sumber: Suara Pembaruan