Mantan Kabais Indikasikan Seruan Prabowo dan Amien Picu Kerusuhan 22 Mei

Mantan Kabais Indikasikan Seruan Prabowo dan Amien Picu Kerusuhan 22 Mei
Aksi 22 Mei 2019. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / WBP Rabu, 29 Mei 2019 | 20:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Laksda TNI (Purn) Soleman B. Ponto mengatakan untuk menemukan dalang kerusuhan 21-22 Mei 2019 harus berdasar fakta-fakta hukum. Namun menurut Soleman, indikasi siapa yang bertanggung jawab sudah bisa terlihat lewat seruan dari sejumlah tokoh, seperti Prabowo Subianto dan Amien Rais.

“Indikasi kan jelas, bahwa dari awal sudah ada seruan mari kita langgar aturan. (Seruan) dari Pak Prabowo ada, dari Pak Amin Rais ada. Ini kan sangat mungkin diikuti oleh yang bawah, ‘ayo kita langgar aja ramai-ramai,” kata Soleman B. Ponto di acara diskusi bertajuk 'Menguak Dalang Makar 22 Mei' di Kantor DPP PSI, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Rabu (29/5/2019).

Seruan itu, lanjut Soleman B. Ponto, bisa dikelompokkan menjadi tiga jenis. Pertama, klaim kemenangan oleh Prabowo-Sandi. Kedua, sikap tidak mau menempuh jalur Mahkamah Konstitusi (MK). Ketiga, seruan rencana demonstrasi di jalan.

“Seruan-seruan seperti ini ke bawah akan diterjemahkan macam-macam, salah satunya seperi itu (kerusuhan). Pada dasarnya, di atas ini tidak menghendak untuk mengkuti peraturan-peraturan yang ada. Yang di bawah kan langsung melakukan pelanggaraan hukum, bakar sana-bakar ini,” tegas Soleman B. Ponto.

Namun demikian, lanjut Soleman B. Ponto, masih harus dibuktikan apakah seruan dari Prabowo, Amien Rais dan tokoh-tokoh lainnya terkait langsung dengan kerusuhan di lapangan. “Apakah seruan ini betul-betul ada hubungan langsung dengan yang di bawah ini? Ini yang harus dibuktikan,” ujar Soleman B. Ponto.

Menurut Soleman, kerusuhan 21-22 Mei 2019 tidak muncul begitu saja. Dia menyebut awal dari rangkaian kerusuhan sudah bisa terlihat dari pasca-pencoblosan pada 17 April 2019. “Dia pasti berawal dari 17 April, setelah ada quick count, dari situ kan pemanasan sudah mulai, (ada seruan) ’mari kita langgar aturan’. Muncul Pak Amien Rais ‘mari kita muncul ke jalan’,” tutur Soleman B. Ponto.

Mendengar seruan tersebut, kata Soleman, mereka yang berniat membonceng demonstrasi untuk menciptakan kerusuhan sudah berhitung apa yang dia dapatkan dari aksi massa tersebut. Dia menyebut pemboceng tersebut antara lain Hizbut Thahir Indonesia (HTI) dan Garis. “Apakah pembonceng-pemboceng ini nanti akan punya acara sendiri atau dia yang akan diacarakan, itu kan pembuktian (di kepolisian) nanti,” tandas Soleman B. Ponto.

Menurut Soleman, sejauh ini kepolisian sudah mengantongi bukti-bukti di lapangan, seperti siapa yang membayar massa, dari mana massa didatangkan, sumber dan jenis senjata yang diselundupkan, dan sebagainya. Sementara dalang kerusuhan, kata dia harus ditemukan lewat penyidikan dari bawah.

“Kalau indikasi tidak bisa, nanti salah. Kita tidak bisa memutuskan bahwa dalangnya ini dari indikasi tidak bisa. Indikasi-indikasi itu mempermudah aparat penegak hukum untuk membuat keputusan. Dalang itu akan terkuak setelah polisi mendapat fakta yang cukup, pengakuan-pengakuan dari orang, baru ketemu dalangnya,” pungkas Soleman B. Ponto.



Sumber: BeritaSatu.com