Dengungkan People Power, Politikus Dinilai Tak Cerminkan Nilai Pancasila

Dengungkan People Power, Politikus Dinilai Tak Cerminkan Nilai Pancasila
Ketua Umum Paraindra Rajasa Brotodiningrat saat diskusi memperingati hari lahirnya Pancasila di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019). ( Foto: istimewa )
Yustinus Paat / WM Minggu, 2 Juni 2019 | 11:20 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Paguyuban Rakyat Indonesia Raya (Paraindra) Rajasa Brotodiningrat menyayangkan banyaknya politikus di Indonesia yang belum sepenuhnya bersikap dan bertingkah laku dengan mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Salah satu buktinya, kata Rajasa adalah masih ada yang mendengunkan people power dalam merespons hasil Pemilu 2019 dan penyebaran berita bohong atau hoax untuk meraih kekuasaan.

"Politikus tidak mencerminkan Pancasila dengan adanya penyebaran berita hoax dan people power," ujar Rajasa dalam diskusi publik memperingati hari lahirnya Pancasila di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (1/6/2019).

Rajasa menegaskan bahwa people power dan penyebaran berita hoax tidak ada dalam sistem nilai Pancasila. Karena itu, dia mengingatkan para politikus agar benar-benar memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

"Kami mengajak agar nilai Pancasila tidak hanya jadi jargon tetapi harus diimplementasikan,"  katanya.

Rajasa mengakui bahwa nilai-nilai Pancasila masih utuh, namun yang kurang adalah pengimplementasian nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Pasalnya, masih banyak pihak yang hanya menilai Pancasila sebagai jargon semata.

"Termasuk dalam perpolitikan di Indonesia saat ini telah keluar dari nilai-nilai Pancasila. Kita lihat para politisi dan elite di pemilu 2019, banyak yang keluar dari nilai-nilai Pancasila," tutur dia.

Seperti diketahui, Paraindra merupakan wadah masyarakat untuk mewujudkan kedaulatan rakyat secara baik dan benar. Paraindra berpijak pada basis kebudayaan masyarakat Indonesia dalam mengkonsolidasi kedaulatan rakyat maupun dalam memperjuangkan dan merespon semua bentuk pengaruh dunia juga pengaruh kebijakan politik negara.

Target yang ingin dicapai oleh Paraindra adalah terbentuknya suatu tatanan masyarakat adil dan makmur. Dengan keadilan yang berkemakmuran itulah masyarakat Indonesia dengan segala bentuk budayanya akan berperan penting dalam mewujudkan cita-cita Indonesia Raya di masa depan.

Wacana Referendum Aceh Tak Berbahaya

Sementara, terkait wacana referendum Aceh, Rajasa menilai hal itu tidak membahayakan keutuhan Bangsa Indonesia. Pasalnya, wacana tersebut hanya gerakan elite, buka berasal dari akan rumput.

"Saya kira tidak bahaya, karena kita lihat, apakah ini memang dari kemauan rakyat Aceh sendiri atau hanya kemauan dari politisi-politisi Aceh," tutur Rajasa.

Rajasa juga mempertanyakan alasan wacana referendum disampaikan sekarang dan pasca pemungutan suara Pemilu 2019. Dia menduga wacana ini masih ada kaitannya dengan Pemiu 2019. Karena itu, kata dia, referendum Aceh harus dinilai secara objektif.

"Kalaupun rakyat Aceh mengeluarkan untuk referendum, kenapa harus saat ini? Kenapa nggak 2014, kenapa nggak 2015, kenapa di ujung (dari Pemilu 2019)," pungkas Rajasa.



Sumber: BeritaSatu.com