Ketum PA GMNI: Halalbihalal Hendaknya Menyatukan Indonesia

Ketum PA GMNI: Halalbihalal Hendaknya Menyatukan Indonesia
Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie (berdiri), Sabtu 8 Juni 2019, memberikan ceramah yang dihadiri, antara lain (duduk kiri ke kanan) Ketua Dewan Pakar Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) Theo L Sambuaga, anggota Dewan Pakar Soekotjo Soeparto, Ketua Umum PA GMNI Ahmad Basarah, serta mantan Ketua KPK Antasari Azhar. ( Foto: Antara )
Carlos KY Paath / AB Sabtu, 8 Juni 2019 | 23:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Persatuan Alumni (PA) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) mengadakan halalbihalal Idulfitri 1440 H di kantornya di Jakarta, Sabtu (8/6/2019), yang dirangkai dengan peringatan 118 tahun lahirnya Presiden Pertama RI Sukarno dan haul ke-6 mantan Ketua MPR, Taufiq Kiemas.

Kegiatan ini dihadiri, antara lain Ketua Umum PA GMNI Ahmad Basarah, Sekjen PA GMNI Ugik Kurniadi, Ketua Dewan Pakar PA GMNI Theo L Sambuaga, mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Antasari Azhar, dan adik Taufiq Kiemas, Heri Kiemas serta Ketum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie.

"Apa yang ingin kami dapatkan dalam kegiatan ini? Seluruh umat Islam setelah Idulfitri adakan silaturahmi. Bukan hanya umat Islam, tetapi seluruh warga bangsa saling bertemu. Merajut silaturahmi yang barangkali terputus. Halalbihalal itu hendaknya menyatukan bangsa Indonesia," kata Ahmad Basarah.

Menurut wakil ketua MPR itu, cita-cita Sukarno sejak muda ingin menyatukan Indonesia dan dilanjutkan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara oleh Taufiq Kiemas. 

Taufiq Kiemas merupakan tokoh lintas ideologi, lintas partai politik, dan generasi, bahkan aliran. "Kita harapkan muncul tokoh-tokoh seperti Pak Haji Muhammad Taufiq Kiemas yang dapat menjadi jembatan menyatukan seluruh perbedaan di tengah-tengah masyarakat kita," ujar Basarah.

Basarah pun menyebut,"Bung Karno dan almarhum Haji Muhammad Taufiq Kiemas adalah tokoh yang gandrung atas persatuan nasional. Hikmah halalbihalal ini, kita ingin merajut persatuan nasional sebagaimana suri teladan para tokoh-tokoh bangsa, termasuk di antaranya Bung Karno dan almarhum Haji Muhammad Taufiq Kiemas."

Senada dengannya, Jimly Asshiddiqie menyatakan figur seperti mantan Ketua MPR Taufiq Kiemas dibutuhkan dalam kehidupan kebangsaan. Taufiq yang wafat pada 8 Juni 2013 merupakan tokoh yang melintasi perbedaan.

"Di saat seperti sekarang, kita sebagai bangsa butuh tokoh Pak Taufiq Kiemas yang mudah melintasi batas sekat. Pentingnya kita punya banyak tokoh yang melintasi batas. Pak Taufiq Kiemas berasal dari keluarga Masyumi, tetapi dia melintas batas masuk kelompok nasionalis. Ini yang harus kita petik pelajaran dari Pak Taufiq Kiemas. Sosok seperti Pak Taufiq kita perlukan," ucap Jimly yang pernah menjabat ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

Jimly menuturkan seluruh komponen bangsa sepatutnya bersyukur bahwa dalam suasana halalbihalal terdapat semangat meminta maaf, memberi maaf, dan saling memaafkan.

Situasi pascapemilu, lanjutnya, membuat masyarakat saling tidak percaya dan media sosial ikut menambah permasalahan. Keterbelahan terjadi akibat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019 antara 68 juta yang memilih pasangan 02 dan 82 juta pemilih 01.

"Pascapemilu harus ada persatuan. Mari kita merajut ulang semangat persatuan kebangsaan kita. Mari kita lupakan persaingan politik. Pemilu kan cuma urusan lima tahun. Jangan karena lima tahun ini, kita pecah belah berkepanjangan. Kalau tidak bisa dikelola, sakit hatinya lima tahun," tuturnya.

Pada kesempatan itu, Jimly mengingatkan bahwa Indonesia merupakan bangsa plural dan tidak ada bangsa seplural Indonesia.

"Kita hidup dalam ruang eksklusif. Persis seperti grup-grup WA. Jawaban yang paling kunci untuk kelola Indonesia beraneka ragam adalah inklusivitas. Kita harus bergaul lintas segmen dan fragmen. Ini menjadi kunci ke-Indonesia-an," tutur Jimly.

Jimly juga mengajak semua pihak untuk menjalin hubungan baik antarsesama manusia. "Urusan surga neraka biarkan itu urusan Allah. Kalau tidak, kita ini selalu menilai diri kita saja yang terbaik. Hubungan kemanusiaan perlu dibuat lentur. Mari kita jangan mengambil alih pekerjaan Allah. Tetapi, jangan pula Anda tidak punya kepribadian. Maka, mari kita nikmati perbedaan sebagai identitas, tetapi lentur dalam berhubungan. Ini yang harus kita petik pelajaran dari almarhum Pak Taufiq Kiemas," tutupnya.



Sumber: Suara Pembaruan