Gerakan Cinta Indonesia Ajak Rajut Kembali Kebinekaan Setelah Pemilu 2019

Gerakan Cinta Indonesia Ajak Rajut Kembali Kebinekaan Setelah Pemilu 2019
Diskusi yang digelar Gerakan Cinta Indonesia pimpinan Ginka Febriyanti Ginting bertema "Merajut Kebhinekaan Pasca Pemilu 2019" di Jakarta, Rabu, 12 Juni 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Kamis, 13 Juni 2019 | 12:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gerakan Cinta Indonesia yang dipimpin oleh Ginka Febriyanti Ginting menggelar diskusi dengan tema "Merajut Kebhinekaan Pasca Pemilu 2019", Rabu (12/6/2019). Di dalam diskusi itu, Gerakan Cinta Indonesia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali merajut kebinekaan setelah Pemilihan Umum (Pemilu) 2019.

Diskusi menghadirkan berbagai narasumber, antara lain mantan aktivis era 1990-an dari Barisan Santri Aktivis dan Mahasiswa, Irwansyah, Ketua Bumi Putera Nusantara, Zainudin Arsyad, dan Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gerakan Kebangsaan, Andre Said.

Selain dari berbagai narasumber yang dihadirkan dalam acara diskusi, Gerakan Cinta Indonesia juga turut mengundang ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi se-Jakarta.

Ginka Febriyanti mengatakan, menyikapi situasi setelah Pemilu 2019, sejumlah aktivis menyerukan para mahasiswa dan kalangan milenial agar dapat menyuarakan kekuatan positif dengan tujuan mempersatukan bangsa yang terpecah. Apalagi, perpecahan itu sudah terasa sejak Pemilu 2019 yang diadakan serentak.

“Seruan itu juga disampaikan oleh aktivis dalam seminar kebangsaan ini,” kata Ginka. Di dalam seminar itu, para pembicara memiliki penilaian yang sama bahwa Pemilu 2019 merupakan peristiwa terbesar yang paling luar biasa sepanjang sejarah penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

Menurut Ginka, sangat disesalkan terjadinya aksi kerusuhan pada 21 dan 22 Mei lalu,  meski pemilu berlanggsung aman dan damai. “Sejumlah aksi yang terjadi pada 21-22 Mei lalu telah mencederai pemilu yang berjalan aman dan damai. Kerusuhan yang terjadi selama aksi 21-22 Mei itu turut menuai kritikan dari berbagai kalangan dari tokoh masyarakat, politisi, maupun dari kalangan aktivis,” tuturnya.

Melihat situasi seperti itu, Ginka mengingatkan kembali agar para mahasiswa dan kaum milenial tidak mudah terpancing provokasi, terutama yang disebar luas lewat sosial media. “Setelah Pemilu 2019 ini, situasi semakin panas justru karena maraknya berita bohong,” ujar Ginka.

Untuk itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para mahasiswa, untuk kembali merajut persatuan dan kesatuan Indonesia. “Sebaliknya mahasiswa dan kaum milenial tampil sebagai pemersatu bangsa melalui gerakan positive power, yang intinya mengajak masyarakat untuk kembali bersatu walau berbeda pilihan dalam pemilu lalu,” tuturnya.



Sumber: BeritaSatu.com