Survei: Mayoritas Rakyat Indonesia Percaya Pemilu 2019 Berlangsung Jurdil

Survei: Mayoritas Rakyat Indonesia Percaya Pemilu 2019 Berlangsung Jurdil
Ilustrasi Pemilu 2019. ( Foto: AFP )
Carlos KY Paath / YUD Minggu, 16 Juni 2019 | 15:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Mayoritas rakyat Indonesia yaitu 68-69 persen percaya bahwa Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) serta Pemilu Legislatif (Pileg) pada 17 April 2019 berlangsung jujur dan adil (jurdil). Sementara yang menganggap kurang atau tidak jurdil hanya 27-28 persen.

“Anggapan bahwa Pemilu 2019 tidak berlangsung jurdil, tidak sejalan dengan penilaian mayoritas warga Indonesia,” kata Direktur Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Sirojudin Abbas, Minggu (16/6/2019).

Hal itu disampaikan Sirojudin saat memaparkan hasil survei nasional bertajuk “Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Pasca-peristiwa 21-22 Mei 2019” di Kantor SMRC, Jakarta, Minggu (16/6/2019). “Pada 2009, publik yang menilai Pemilu berlangsung jurdil mencapai 67 persen, dan pada 2014 ada 70,7 persen,” ujar Sirojudin.

Temuan lain survei SMRC yaitu, mayoritas rakyat menilai positif kondisi bangsa dan demokrasi Indonesia. Sekitar 66 persen rakyat menyatakan puas dengan kualitas demokrasi. Di sisi lain, 77 persen warga mengaku pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah pemerintahan demokratis.

Survei dilaksanakan pada 20 Mei-1 Juni 2019. Survei ini merupakan riset jangka panjang SMRC. Pembiayaan berasal dari SMRC. Populasi survei merupakan seluruh penduduk yang sudah berumur 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

Dipilih secara acak 1220 responden di 34 provinsi. Responden yang diwawancara secara valid 1078 atau 88 persen dari total sampel. Margin of error 3,05 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Responden diwawancarai langsung tatap muka.

Survei menunjukkan adanya penurunan kepercayaan warga terhadap sejumlah hal yang menjadi indikator kualitas demokrasi. Sebanyak 43 persen warga menganggap saat ini sering takut bicara politik. Berikutnya, 28 persen warga menilai pemerintah sering mengabaikan konstitusi.

Selanjutnya, 38 persen warga menilai sering merasa takut dengan perlakuan semena-mena oleh aparat penegak hukum. Terdapat 21 persen warga sering takut ikut organisasi, dan 25 persen warga sering takut menjalankan agama.

Sirojudin mengungkap, warga yang menilai kondisi politik berlangsung buruk juga mengalami peningkatan dibandingkan 2014. Sekitar 33 persen warga menganggap kondisi politik Indonesia sekarang buruk, sedangkan pada 2014 mencapai 20 persen.

Sirojudin mengatakan, sebanyak 82 persen warga menganggap demorkasi adalah pilihan sistem terbaik. Sementara 86 persen warga menilai demokrasi cocok untuk Indonesia. Hasil lainnya yaitu 91 persen warga menganggap penting kebebasan untuk mengeritik pemerintah.



Sumber: Suara Pembaruan