Rekonsiliasi Pascapilpres Harus Berlangsung Substantif

Rekonsiliasi Pascapilpres Harus Berlangsung Substantif
Ilustrasi Pilpres 2019. ( Foto: AFP )
Carlos KY Paath / WBP Minggu, 16 Juni 2019 | 17:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sosiolog Universitas Indonesia (UI), Thamrin Amal Tamagola berharap rekonsiliasi pascapilpres harus berlangsung secara substantif. Artinya, rekonsiliasi jangan justru untuk mengakomodir kubu di luar Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Harus ada rekonsiliasi yang substantif pada tingkat bangsa. Tidak semata-mata pada tingkat politik kabinet. Mengambil politik di seberang, masuk ke Jokowi. Rekonsiliasi itu juga hanya mungkin setelah 20 Oktober 2019. Sebelum itu, rekonsiliasi tidak mungkin,” kata Thamrin Amal Tamagola saat menyampaikan rilis survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Pasca-peristiwa 21-22 Mei 2019” di Kantor SMRC, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Thamrin Amal Tamagola mengungkap, polarisasi di tengah masyarakat sangat terlihat setelah pilpres. Tak sedikit rakyat yang was-was dengan proses gugatan Prabowo Subianto atas hasil Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK). “Rakyat itu sebenarnya dalam keadaan khawatir dan takut sekali,” ucap Thamrin Amal Tamagola.

Thamrin Amal Tamagola menambahkan, polarisasi juga terjadi hingga ke agama. “Ada Islam 'sana' ada Islam 'sini'. Ada kelompok ideologi 'sana' dan 'sini'. Terlihat juga dari suara yang diperoleh 01 (Jokowi) dan 02 (Prabowo),” imbuh Thamrin Amal Tamagola.

Thamrin Amal Tamagola menyebut, wilayah-wilayah yang dimenangkan hampir mutlak, dominan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. "Paling dominan di Bali. Jokowi menang di daerah, dimana Islam 'sini' dan kelompok minoritas yang ketakutan dengan khilafah dan Islam garis keras,” kata Thamrin Amal Tamagola.

Thamrin Amal Tamagola menyatakan, sementara 02 menang di wilayah yang dikenal mempunyai fanatisme sangat kuat terhadap Islam. “Kalau begitu, berarti negeri kita ini sudah terpolarisasi sangat tajam dalam kaitan agama dan politik,” ucap Thamrin Amal Tamagola.



Sumber: Suara Pembaruan