Max Tegaskan KLB Demokrat Bukan Tujuan Utama

Max Tegaskan KLB Demokrat Bukan Tujuan Utama
Anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Max Sopacua. ( Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao )
Carlos KY Paath / JAS Selasa, 18 Juni 2019 | 11:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Usulan Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat (PD) layu sebelum berkembang. KLB memang disebut bukan menjadi persoalan utama yang diangkat Gerakan Moral Penyelamatan PD (GMPPD).

“Padahal bukan KLB yang jadi tujuan utama. Karena siapapun tidak akan menginginkan KLB. Banyak orang tidak paham persoalan politik secara utuh dan hanya memikirkan kepentingaan sesaat,” kata salah satu penggagas GMPPD, Max Sopacua kepada Beritasatu.com, Selasa (18/6/2019).

Faktor penyebab dicanangkannya GMMPD yaitu penurunan suara PD sejak Pemilu 2009. Untuk diketahui, pada Pemilu 2009, PD mendapatkan 14.600.091 suara atau 20,85 persen. Sementara pada 2014, PD meraih 12.728.913 suara atau 10,9 persen.

Pada Pemilu 2019, PD hanya memperoleh 0.876.507 suara atau 7,77 persen. “Partai Demokrat bisa dikatakan terpuruk, dan ini harus diatasi bersama. Perlu ada evaluasi, karena lima tahun lagi masih ada Pemilu,” ujar Max.

Anggota Majelis Tinggi PD tersebut menambahkan, para senior PD menginginkan konstituen tidak semakin meninggalkan partai. “Anda bisa bayangkan kalau ketika Pemilu 2019 itu, konstituen Partai Demokrat banyak yang lari atau memilih partai lain,” ucap Max.

Inisiator GMPPD lainnya, Ahmad Mubarok mengatakan, politisi-politisi senior merasa prihatin atas kondisi PD. Menurut Mubarok, PD sepatutnya mengadakan pertemuan berupa rapat kerja nasional maupun rapat pimpinan nasional.

Mubarok yang juga anggota Dewan Pembina PD menyatakan, KLB tak tertutup kemungkinan dilaksanakan sepanjang sesuai AD/ART. Figur Komandan Komando Satuan Tugas Bersama PD, Agus Harimurti Yudhoyono layak menjadi ketua umum (ketum) menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Ketua Dewan Kehormatan PD Amir Syamsudin mengingatkan seluruh kader PD tidak bicara lebih jauh mengenai KLB. Amir meminta komunikasi publik dalam bentuk apa pun terkait dengan konflik internal tak disampaikan lewat konferensi pers secara terbuka di publik.

“Dewan Kehormatan akan memanggil semua pihak yang memicu konflik yang ada untuk didengar keterangannya dan diselesaikan sesuai peraturan internal partai yang berlaku,” demikian Amir dalam keterangan tertulisnya.

Kursi Ketum

Wakil Sekretaris Jenderal PD Arief melalui akun Twitternya, @AndiArief_, Minggu (16/6), menyoroti GMPPD. Arief mengungkap, tokoh-tokoh di GMPPD tak pernah dilihatnya berkontribusi bagi PD. Selain itu, Arief menilai ada pihak luar yang berusaha mencampuri PD.

Arief juga menyatakan, PD sedang berduka atas kepergian Ani Yudhoyono. Lebih lanjut, Arief pun menyebut nama Sandiaga Uno dan Gatot Nurmantyo, sebagai kandidat ketum yang bakal diajukan oleh GMPPD.

"Kami sudah tahu kalau Mubarok, Max Sopacua akan mendatangkan kursi Ketum Demokrat kepada Sandi Uno, Gatot Nurmantyo dll. Menjadi makelar memang kerap menguntungkan, tapi Sandi Uno atau Gatot Nurmantyo bukan orang yang bodoh yang bisa dibohongi,” tulis Arief.

Max menepis tudingan dari Andi Arief. “Andi arief tukang mengkhayal. Bayangkan dia mengkhayal berbagai hal yang tidak terbukti. Mulai dari tujuh kontainer, dan setan gundul. Secara AD/ART saja, tidak mungkin Sandi atau Gatot jadi ketum,” tegas Max.

Max pun menyebut, “Bagaimana mungkin orang luar tiba-tiba jadi ketum Partai Demokrat. Harus punya portofolio dulu di partai seperti apa, baru bisa. Sebagai intelektual harusnya kita punya dasar bicara yang rasional. Partai punya AD/ART atau konstitusi. Tidak serta merta dengan cuap-cuap.”

Pada bagian lain, Max mengaku pihaknya belum bertemu dengan SBY pascadeklarasi GMPPD. “Belum ada pertemuan dengan Pak SBY. Saya yakin beliau arif dan bijaksana melihat situasi ini. Saya kira nanti pasti ada pertemuan dengan beliau,” imbuh Max.

Momentum

Pengamat politik dari Universitas Bunda Mulia (UBM) Silvaus Alvin menyatakan, momentum GMPPD memang kurang tepat, karena SBY masih berduka sepeninggal Ani yang wafat pada 1 Juni 2019.

“Walau tujuan mereka (GMPPD) baik, demi membangkitkan kejayaan partai, tapi bagi saya langkahnya salah. Timing atau momentumnya tidak tepat, karena SBY sedang berduka karena kepergian Ibu Ani. Harusnya Max cs mengerti situasi,” kata Alvin.

Menurut Alvin, pembicaraan juga semestinya dilakukan tertutup dari media dan ruang publik. Sebab jika tidak, maka akan memperburuk citra PD. “Akan ada kesan Partai Demokrat tidak solid. Ini gerakan penyelamat malah dapat berubah jadi gerakan kehancuran,” imbuh Alvin.

Alvin menyatakan, setiap kisruh di tubuh partai politik (parpol) tidak akan pernah berujung pada dampak positif. Kini, lanjut Alvin, AHY perlu secepatnya mengadakan konsolidasi dengan seluruh jajaran PD.

“Solusinya untuk persoalan sekarang adalah AHY sebagai 'putra mahkota' sebaiknya sesegera mungkin melakukan konsolidasi. Duduk bersama dengan seluruh ketua DPP, DPD dan DPC dalam acara silaturahmi nasional misalnya,” ucap Alvin.

Alvin menyebut, “Saya melihat AHY sebagai tokoh muda yang dapat membawa ide segar dan kreatif bagi Demokrat. Sekali lagi, Demokrat bisa sukses apabila kader-kader di partainya solid. Jadi pekerjaan utama SBY sekarang adalah meyakinkan kader-kader Untuk tidak gaduh.” 



Sumber: Suara Pembaruan