Saksi Prabowo Klaim Temukan Ratusan Ribu KK Manipulatif

Saksi Prabowo Klaim Temukan Ratusan Ribu KK Manipulatif
Sejumlah saksi dari pihak pemohon diambil sumpahnya saat sidang Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (19/6/2019). Sidang tersebut beragendakan mendengarkan keterangan saksi dan ahli dari pihak pemohon. ( Foto: ANTARA FOTO / Hafidz Mubarak A )
Yeremia Sukoyo / JAS Rabu, 19 Juni 2019 | 11:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Tim Siber Badan Pemenangan Nasional (BPN) Praboso Subianto-Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi), Agus Maksum, menjadi saksi fakta yang diperdengarkan kesaksiannya dalam sidang lanjutan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Di hadapan Hakim MK, Agus mengklaim telah menemukan 117.333 Kartu Keluarga (KK) manipulatif. Namun demikian, Agus juga tidak mengetahui apakah KK manipulatif tersebut juga ada DPT yang ikut memberikan hak pilih.

"KK manipulatif, satu KK berisi lebih dari 1.000 orang. Pertama nomor KK itu sendiri tidak valid. Mestinya menginformasikan tanggal di mana KK itu dicatat. Kedua terdiri dari 1.355 anggota keluarga yang beralamat berbeda-beda. Seharusnya 1 KK satu alamat, bapak ibu anaknya walaupun jumlahnya banyak," kata Agus Maksum.

Dijelaskan Agus, dari 117.333 KK manipulatif tersebut didapat dari hasil penelusurannya di 5 kabupaten. Ketika dilaporkan ke KPU dirinya pun meyakini KPU tidak melakukan perbaikan secara menyeluruh dari hasil temuan tersebut.

"Setelah kami melaporkan memang dilakukan perbaikan oleh KPU. Tapi yang dilakukan perbaikan tidak menyeluruh, yang viral saja. Kami lakukan pengecekan di kota Bogor," ucapnya.

Selain Agus Maksum, MK juga akan mendengarkan kesaksian dari Idham, Hermansyah, Listiani, Nur Latifah, Rahmadsyah, Fakhrida Arianti, Tri Susanti, Dimas Yehamura, Beti Kristiana, Tri Hartanto, Risda Mardiana, Haris Azhar, Said Didu, Hairul Anas. Sedangkan dari saksi Ahli diantaranya Jaswar Koto dan Soegianto Sulistiono.



Sumber: Suara Pembaruan