Sidang Sengketa Pilpres di MK Jadi Panggung 'Pertarungan' Alumni UGM

Sidang Sengketa Pilpres di MK Jadi Panggung 'Pertarungan' Alumni UGM
Ahli tim Jokowi-Ma'ruf Edward Omar Sharif Hiariej saat sidang lanjutan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden dan wakil presiden di gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Jumat (21/6/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Fana Suparman / FMB Sabtu, 22 Juni 2019 | 11:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Persidangan perkara gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK) telah berakhir. Ketua Majelis Hakim yang juga Ketua MK Anwar Usman menutup persidangan pada Jumat (21/6/2019) malam setelah mendengar dua saksi dan dua ahli yang dihadirkan tim hukum Jokowi-Ma'ruf selaku pihak terkait.

Selama proses persidangan yang mulai digelar pada Jumat (14/6/2019) lalu perdebatan kerap terjadi. Para pihak saling adu argumentasi untuk meyakinkan Majelis Hakim. Termasuk saat tim hukum Jokowi-Ma'ruf menghadirkan pakar hukum pidana Edward Omar Sharif Hiariej atau yang akrab disapa Prof Eddy.

Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra mengatakan perdebatan yang terjadi antara ahli yang dihadirkan tim hukum Jokowi-Ma'ruf dengan tim hukum Prabowo-Sandi melibatkan alumni Universitas Gajah Mada (UGM). Untuk itu, persidangan ini seolah menjadi panggung bagi alumni UGM.

"Kalau kita lihat perdebatan tadi sepertinya kayak perdebatan panggung orang-orang UGM sebetulnya," kata Hakim Saldi dalam persidangan, Jumat (21/6/2019).

Setidaknya, terdapat enam alumni UGM yang berada di ruang persidangan. Dikatakan, lima nama yang terlibat dalam perdebatan antara lain, ahli hukum pidana Edward Omar Sharif Hiariej alias Eddy Hiariej, Denny Indrayana, Heru Widodo, Iwan Satriawan, serta Lutfhi Yazid. Sementara satu alumni UGM lainnya, yakni Anggota Majelis, Enny Nurbaningsih.

"Dari lima orang yang berdebat tadi itu induknya semua yang mengajari orang ini nakal Lutfhi Yazid. Ada Profesor Enny (Hakim MK Enny Nurbaningsih), itu yang keenam," katanya.

Menurut Saldi, sidang tersebut menjadi pertarungan para alumni UGM. Namun, Saldi meyakini pertarungan argumentasi itu hanya terjadi di ruang sidang. Sementara di luar persidangan, mereka yang terlibat perdebatan tetap akur.

"Jadi ini pertarungan para alumni UGM. Saya khawatir di dalam ini saja mereka bertengkar tetapi di luarnya akur-akur lagi. Jadi agak repot kalau begitu sebetulnya," kata Saldi.

Sebelumnya, hakim MK lainnya Arief Hidayat menyebut bahwa persidangan kali ini menjadi kontes pakar hukum dalam menyampaikan pendapatnya.

"Ya ini anu kok ini, apa namanya, kontes para pakar hukum supaya didengar oleh seluruh rakyat Indonesia. Bagaimana para pakar hukum di Indonesia berdebat. silakan," kata Arief sembari tertawa.

Setelah sesi tanya-jawab dengan ahli dari tim Jokowi atau sebelum menutup persidangan, Ketua Majelis Hakim Konstitusi yang juga Ketua MK, Anwar Usman sempat memprotes lantaran tak disebut sebagai alumni UGM. Padahal Hakim Anwar meraih gelar doktor di UGM. Tak hanya dirinya, Hakim Anwar mengatakan, Wakil Ketua MK Aswanto, juga lulusan S-2 UGM.

"Sebentar, Yang Mulia, saya mau protes dulu ke Prof Eddy. Saya sama Pak Wakil merasa sedih. Saya sama Yang Mulia Pak Wakil nggak diakui. Gimana ceritanya. Kami juga kan alumni," ungkap Hakim Anwar dengan nada bergurau.

Hakim Anwar mengaku terharu dengan suasana persidangan yang penuh kekeluargaan. Untuk itu, Hakim Anwar berterima kasih kepada para pihak yang terlibat dalam proses persidangan.

"Sekalian juga saya juga terus terang merasa terharu dan terima kasih suasana persidangan yang luar biasa, ditonton semua rakyat Indonesia. Bagaimana kekeluargaan terbentuk di sini. Kedekatan yang luar biasa," ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan