Pengamat: Idealnya Koalisi Dibentuk Sebelum Pilpres

Pengamat: Idealnya Koalisi Dibentuk Sebelum Pilpres
Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto berkumpul bersama para sekjen partai koalisi pendukungnya usai merayakan syukuran dan doa bersama di kediamannya jalan Kertanegara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (19/4/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Hotman Siregar )
Markus Junianto Sihaloho / WM Kamis, 18 Juli 2019 | 08:42 WIB

 

 

Jakarta, Beritasatu.com - Partai politik (parpol) yang tidak sejak awal menjadi pendukung Jokowi-Ma'ruf Amin sebaiknya tak usah terlalu ngebet untuk bergabung ke pemerintahan. Sebab koalisi yang ideal adalah koalisi yang dibentuk sebelum Pilpres 2019 dilakukan.

Menurut pengamat politik Karyono Wibowo, memang kerap terjadi dalam sejarah politik di Indonesia, bahwa koalisi berubah-ubah. Artinya, selesai pemilu, parpol yang awalnya berseberangan di pilpres, tiba-tiba diakomodasi di pemerintahan.

"Padahal yang ideal adalah koalisi itu dibentuk sebelum pemilihan dan parpol koalisi pemenang lah yang membentuk pemerintahan," kata Karyono, Kamis (18/7/2019).

Menurut dia, alasan utamanya adalah fairness (keadilan). Bahwa parpol koalisi yang bekerja memenangkan, maka merekalah yang berhak menjalankan pemerintahan.

Alasan kedua, perlu ada check and balance dalam demokratis.

"Seharusnya yang kalah itu mengambil peran itu," katanya.

Masalahnya, kata dia, kerap kali parpol koalisi pemenang pemilu tak konsisten menjaga kekuatannya di parlemen. Dinamika politik di Parlemen pasti akan jadi pertimbangan bagi seorang presiden. Karena supaya pemerintahan berjalan, tak boleh ada hambatan politik terhadap kebijakan pemerintah di Parlemen.

Jumlah kursi parlemen koalisi parpol Jokowi-Ma'ruf sudah berjumlah lebih dari 60 persen. Masalahnya, belum ada jaminan koalisi itu akan terus solid. Karyono bisa memahami alasan bila Jokowi-Ma'ruf berusaha mengajak, misalnya Gerindra, untuk masuk ke koalisi.

Maka bila ingin mendorong agar Gerindra tak masuk koalisi, harus ada jaminan dari elite parpol koalisi Jokowi-Ma'ruf untuk akan terus konsisten dan setia.

"Maka syaratnya koalisi itu solid. Yang dikhawatirkan jika koalisi itu tak solid ketika berada di parlemen," kata Karyono.



Sumber: BeritaSatu.com