Kempora Sudah Perkirakan Ada Atlet Nasional Terpapar Pemikiran Radikalisme

Kempora Sudah Perkirakan Ada Atlet Nasional Terpapar Pemikiran Radikalisme
Gatot Dewa Broto. ( Foto: Antara )
Hendro D Situmorang / AMA Senin, 22 Juli 2019 | 13:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot Dewa Broto mengatakan, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) sudah perkirakan kecenderungan ada atlet nasional yang terpapar gerakan radikal sejak lama. Maka dari itu, setiap jelang event nasional maupun internasional ada pengukuhan atlet yang menyatakan setia pada Bangsa dan Tanah Air dengan berani menyatakan sikap disertai mencium bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu kebangsaan.

“Kami selalu berikan motivasi di setiap program pelatihan baik dari pemerintah secara langsung maupun pembinaan dari federasinya (cabang olahraga) masing-masing supaya unsur kebangsaaannya masuk dan menjiwainya,” ungkap Gatot ketika dihubungi SP, Senin (22/7/2019).

Baca juga: Puluhan Atlet Nasional Terindikasi Pengikut Kelompok Radikal

Diakui, sekarang atlet biasanya menjadi role model atau publik figur di masyarakat dan kelompok radikal itu mencari sosok yang memiliki pengaruh dengan konteks juga mengincar atau membidik follower-nya.

“Makanya dalam 4 tahun belakangan ini, kami meningkatkan dan memberikan apresiasi yang tinggi pada atlet yang berprestasi karena kami tahu latihan mereka sangatlah keras dan juga adanya tuntutan target prestasi,” jelas dia.

Hal itu, lanjut Gatot, sebagai bentuk bahwa negara hadir bagi atlet agar ada keseimbangan sebagai bentuk penghargaan pemerintah terhadap pejuang olahraga. Kempora saat ini baru fokus ke federasi atau cabang olahraga saja an belum masuk ke klub-klub olahraga.

“Makanya kami himbau ke federasi dan juga pemda agar minta turun tangan karena mereka kepanjangtangan dari pemerintah pusat agar membantu. Jangan sampai terjadi radikalisme di klub dan mengakar, karena itu sama saja seperti pengepungan. Kami memang belum ada data secara konkret. Tapi kalau di tingkat nasional presentasenya kami yakin itu masih kecil dibawah nol koma  sekian persen,” tutup Gatot.



Sumber: Suara Pembaruan