Pengamat: Prabowo Coba Minta Jatah Menteri Lewat Megawati
Logo BeritaSatu

Pengamat: Prabowo Coba Minta Jatah Menteri Lewat Megawati

Kamis, 25 Juli 2019 | 08:36 WIB
Oleh : Robertus Wardi / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Pengamat komunikasi politik Silvanus Alvin menilai pertemuan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri pada Rabu (24/7/2019) kemarin sangat bagus untuk bangsa sebagai lanjutan dari upaya rekonsiliasi. Namun dalam pertemuan itu, Prabowo terkesan ingin meminta jatah menteri atau pimpinan MPR ke Presiden Jokowi lewat Megawati.

"Ada kesan Prabowo berusaha meminta jatah kursi di pemerintahan dengan meminta bantuan Megawati sebagai perantara antara dirinya dan Jokowi. Sebab, dalam pernyataan usai pertemuan, Megawati sempat dititipi pesan oleh Prabowo untuk disampaikan ke Jokowi," kata Alvin di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Ia melihat pertemuan keduanya sebagai bentuk komunikasi politik nonverbal yang dapat ditasfir secara berbeda-beda oleh masyarakat. Bisa saja ada yang berpikir bahwa Prabowo sebagai wajah Gerindra yang tidak mau menjadi oposisi kembali. Karena itu, mulailah Prabowo mendekatkan diri kepada Megawati agar bisa masuk dalam pemerintahan.

Di sisi lain, Megawati dan PDIP akan jadi sorotan dari partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang mendukung Jokowi karena menerima Prabowo masuk dalam koalisi. Ketika Megawati sudah menyatakan menerima Prabowo bersama Gerindra maka tidak ada alasan bagi Jokowi menolak, sekalipun sebagai presiden terpilih.

"Implikasi dari pertemuan kemarin pasti akan membuat partai-partai lain akan melakukan pertemuan dengan Megawati. Ini jika tidak ingin terjadi keretakan dalam KIK," jelas Alvin yang juga pengajar pada Universitas Bunda Mulia (UBM) Jakarta‎ ini.

Di tempat terpisah, analis politik dari Exposit Strategic Arif Susanto menilai selain sebagai bagian dari silaturahmi dan rekonsiliasi politik, pertemuan Megawati-Prabowo memiliki makna berbeda bagi kedua tokoh. Bagi Megawati, pertemuan itu adalah penegasan posisinya bukan semata sebagai politikus aktif paling senior di lingkaran elite, melainkan juga eksistensinya sebagai king maker yang tetap berpengaruh terhadap pengelolaan kekuasaan.

Penegasan itu penting bagi Megawati untuk memastikan bahwa konfigurasi politik dalam pembentukan pemerintahan maupun pengisian jabatan pimpinan MPR dan DPR berada dalam kendalinya. Mengacu pengalaman 2014, saat itu keterpilihan Jokowi-JK dan kemenangan PDIP tidak membuat mereka mampu mengunci dominasi politik.

"Inilah yang tidak ingin diulang oleh Megawati dengan cara mengajak serta Prabowo dan Gerindra untuk memberikan perimbangan politik," kata Arif.

Pada sisi lain, lanjut Arif, pertemuan itu memberi kesempatan bagi Prabowo untuk tetap menjadi bagian penting pembentukan konfigurasi politik, sekaligus untuk menjaga peluang Gerindra mendapatkan bagian kekuasaan. Setelah kegagalannya dalam Pilpres, kali ini Prabowo menemukan pijakan baru melalui kedekatannya dengan Megawati untuk memulihkan pengaruh politiknya.

Adapun ketidakhadiran Jokowi, terlepas kesibukan kenegaraannya, juga menunjukkan tarikan lain. Jokowi berada dalam suatu tegangan antara menjaga independensi relatif dengan Megawati sekaligus mengandalkan pengaruhnya untuk menciptakan keseimbangan politik. Jika keseimbangan tersebut dapat diwujudkan, tidak ada yang berada di puncak kekuasaan selain Jokowi maupun Megawati.



Sumber: Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

DPP Nasdem: Pemberitaan Surya Paloh Dukung Anies di Pilpres Keluar Konteks

"Itu (pemberitaan) tidak pada konteksnya. Pak Surya bilang itu konsentrasi DKI. Dukungannya itu Pilgub, bukan Pilpres," kata Willy Aditya.

POLITIK | 25 Juli 2019

Arief Poyuono: Pertemuan Elite Politik jangan hanya sebatas Cipika-Cipiki

Pertemuan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto diharapkan bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat

POLITIK | 24 Juli 2019

Golkar Sayangkan Manuver Merebut Ketua MPR

Barisan Aktivis Muda Partai Golkar menilai tidak elok jika masih ada anggota Partai Koalisi Jokowi yang bermanuver untuk mendapatkan kursi Pimpinan MPR.

POLITIK | 24 Juli 2019

Djarot: Pertemuan Megawati-Prabowo Tak Bicarakan Jatah Kursi

Djarot percaya pertemuan ini bisa mempertemukan dua tokoh nasionalis sejati.

POLITIK | 24 Juli 2019

Senator Papua Dukung Anak Adat Papua di Kabinet Jokowi

dalam dua Periode sebagai anggota DPD , Mervin sudah terbukti memberikan gagasan-gagasan yang cerdas, wawasan yang luas dan kapasitas yang mumpuni

POLITIK | 24 Juli 2019

Pertemuan Prabowo dan Megawati Dinilai Menyejukkan Indonesia

Kunjungan Prabowo ke kediaman Megawati, Rabu (24/7/2019), tentu menyejukkan bangsa.

POLITIK | 24 Juli 2019

Gerindra Dinilai Lakukan Reposisi Politik

Keinginan Gerindra untuk melakukan reposisi dari oposisi menjadi koalisi tidak mudah

POLITIK | 24 Juli 2019

Pengamat: Pertemuan Mega dan Prabowo Bermakna Dua Hal

Adanya pertemuan itu diyakini karena kedua pihak sadar bahwa telah begitu banyak dampak kompetisi Pilpres bagi stabilitas sosial politik bangsa.

POLITIK | 24 Juli 2019

Dipertanyakan, Sikap Nasdem Dukung Anies Jadi Capres 2024

sikap Partai Nasdem yang tiba-tiba mendukung Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menjadi Calon Presiden (Capres) 2024 dipertanyakan

POLITIK | 24 Juli 2019

Surya Paloh: NasDem Dukung Anies Baswedan Lahir Batin

Surya Paloh menyarankan agar Anies bisa mengoptimalkan kemampuan yang dia miliki.

POLITIK | 24 Juli 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS