Jimly: Apapun Istilahnya, Oposisi Sifat Alamiah Demokrasi

Jimly: Apapun Istilahnya, Oposisi Sifat Alamiah Demokrasi
Mantan Ketua MK Jimly Asshiddiqie memberikan tausiah dalam acara Peringatan 118 Tahun lahirnya Ir. Soekarno serta Haul ke 6 wafatnya HM. Taufik Kiemas, di Kantor DPP PA GMNI di Jakarta, Sabtu (8/619). Acara yang dikemas dengan Halal bi Halal ini hadiri beberapa tokoh nasional. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad defrizal )
Fana Suparman / MPA Kamis, 25 Juli 2019 | 18:56 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie menyatakan apapun namanya, oposisi merupakan sifat alamiah dalam negara demokrasi. Menurutnya, demokrasi tidak akan berjalan baik tanpa check and balances dari oposisi.

"Itu sifat alamiah demokrasi. Demokrasi nanti tidak akan bekerja kalau tidak ada chek and balances. Itu hukum kehidupan. Jadi istilah apapun yang mau dipakai apakah kelompok pengimbang apakah kelompok oposisi itukan sekedar istilah tapi bahwa itu harus ada," kata Jimly usai menjadi pembicara dalam Diskusi Buku 'Law and Politics of Constitutional Courts: Indonesia and the Search of Judicial Heroes' di Kantor CSIS, Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Jimly yang juga mantan Ketua MK mengatakan, secara ideal, posisi oposisi harus kuat, namun jangan terlalu kuat agar tidak mendikte proses pengambilan keputusan kebijakan Presiden dan pemerintah. Sebaliknya, kata Jimly, oposisi juga jangan terlalu lemah agar fungsi kontrol berjalan dengan baik.

"Dia (oposisi) jangan terlalu lemah kalau dia terlalu lemah tidak ada kontrol," kata Jimly yang terpilih sebagai anggota DPD dari DKI Jakarta.

Diketahui, pasca-Pilpres 2019, sejumlah partai pendukung Prabowo-Subianto memberikan sinyal keinginan bergabung dengan Koalisi Jokowi-Ma'ruf. Setidaknya, Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, hingga Prabowo Subianto telah bertemu dengan Jokowi. Terakhir, Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra menyambangi kediaman Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

Jimly enggan menanggapi adanya kemungkinan posisi oposisi akan lemah dalam pemerintahan mendatang jika partai-partai pendukung Prabowo-Sandiaga resmi bergabung dengan pemerintah. "Kita lihat saja," kata Jimly.



Sumber: Suara Pembaruan