Grace Natalie Bicara Masa Depan Politik Indonesia di Universitas Melbourne

Grace Natalie Bicara Masa Depan Politik Indonesia di Universitas Melbourne
Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie saat berbicara tentang "A Political Disruption” di University of Melbourne, Australia, 7 Agustus 2019. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / AO Kamis, 8 Agustus 2019 | 17:40 WIB

Melbourne, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Grace Natalie, diundang menjadi pembicara dalam "The 2019 Indonesian Elections: Electoral Accountibilty and Democratic Quality" di University of Melbourne, Australia, 6-7 Agustus 2019.

Grace menjadi pembicara pembuka pada hari pertama, Selasa (6/8/2019). Dia diminta berbicara tentang “The Future of Democracy in Indonesia”. Mantan presenter TV berita itu menyampaikan materi berjudul “Defending Democracy”.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (8/8/2019), Grace mengatakan, Pemilu 2019 memiliki tantangan tersendiri karena maraknya kabar bohong dan meningkatnya politik identitas. Namun, Grace yakin bahwa Indonesia pada 5 tahun mendatang akan semakin baik, karena Jokowi terpilih kembali sebagai presiden Indonesia.

"Dalam periode pemerintahan pertama, Jokowi terbukti bekerja keras untuk membenahi Indonesia," kata Grace. Dia menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak dibentuk oleh kaum elite namun berada di tangan setiap warga negara. Karena itu, setiap warga negara harus segera menghentikan pragmatisme politik dan menyalahgunakan agama sebagai alat politik.

"Dari segi perekrutan politik harus akuntabel dan transparan agar masyarakat mau terlibat aktif dalam politik sehingga orang-orang terbaiklah yang masuk ke dalam sistem untuk membuat undang-undang,” tutur Grace.

Sehari kemudian, Rabu (7/8/2019), Grace berbicara tentang tema “A Political Disruption” dalam sesi “Source of Power”. Dia menjelaskan cara partai politik mampu menggunakan kekuatan politiknya. Meskipun PSI belum lolos syara ambat batas perolehan suara untuk mendapatkan kursi di DPR, PSI berhasil meraih 76 kursi di beberapa provinsi dan kabupaten/kota.

Dengan posisi itu, PSI dapat membuat disrupsi dengan mengganggu zona nyaman para anggota dewan. “PSI sudah menyiapkan sistem melalui aplikasi untuk membantu kerja anggota dewan dari PSI agar lebih mudah berkomunikasi langsung dengan para konstituen sehingga aspirasi masyarakat dapat diserap dan dilaksanakan dengan baik,” ungkap dia.

Atas undangan ini Grace mengaku senang karena, dari kalangan parpol di Indonesia, hanya PSI. Sementara, para pembicara berasal dari para akademisi universitas terbaik di Indonesia dan di Australia.

“Tentu ini menjadi suatu kehormatan bagi PSI karena nilai dasar perjuangan kami diterima di institusi pendidikan dan telah sampai di negeri Kanguru. Ini menambah semangat kami untuk berjuang memenangkan Pemilu 2024,” kata Grace.

Dua pembicara lain juga mengapresiasi PSI. Robertus Robert, dosen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan CILIS Melbourne Law School mengatakan, banyak partai politik yang tidak sesuai antara ideologi dengan kebijakan-kebijakan di lapangan.

“PSI partai yang menjunjung nilai solidaritas. Saya berterima kasih, karena PSI mendukung saya saat terkena dugaan melanggar kasus UU ITE,” kata Robet.

Sementara itu, Dina Afriyanti, dosen di La Trobe University, Sydney, mengatakan, dengan memiliki ketua umum parpol perempuan membuktikan Indonesia maju dalam berpikir.

“Kita memiliki masalah dengan toleransi, tetapi ada masa depan seperti yang PSI perjuangkan. Seharusnya semua parpol seperti itu. Partai yang sudah mapan pasti merasa 'digoyang' oleh PSI. PSI adalah partai potensial dan memiliki masa depan cerah. Juga PSI satu-satunya parpol yang peduli dengan kaum disabilitas,” ujar Dina

Diselenggarakan Asia Institute, dengan bantuan Indonesian Democracy Hallmark Research Initiative (IDeHari), forum ini dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi, peneliti, dosen, dan para jurnalis.



Sumber: BeritaSatu.com