Ancaman Terbesar NKRI adalah Radikalisme

Ancaman Terbesar NKRI adalah Radikalisme
Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI), Ade Armando (kiri) bersama para pembicara lainnya dalam bedah buku bertajuk "Ancaman Radikalisme dalam Negara Pancasila" di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/8/2019). ( Foto: Ismewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Sabtu, 31 Agustus 2019 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia (UI), Ade Armando, menandaskan, ancaman terbesar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) lima tahun ke depan, yakni radikalisme. Menurutnya, gerakan Islamis radikal bertentangan dengan NKRI dan Pancasila. Ia mengatakan tidak ada yang namanya istilah NKRI bersyariah dalam konteks Negara Pancasila.

"Perkara korupsi dan narkoba. Memang tidak mudah kita perangi tapi penyelesaiannya simpel. Kuncinya berada pada penegakan hukum yang tegas. Tapi perkara radikalisme itu ibarat kanker ganas," tegas Ade Armando dalam bedah buku bertajuk "Ancaman Radikalisme dalam Negara Pancasila" di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/8/2019).

Hadir dalam acara ini sebagai pengulas Kepala Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar, mengatakan, sikap pemerintah akan tegas terhadap ormas yang bertentangan dengan ideologi Pancasila. Ormas boleh hidup tapi tidak boleh melawan negara. Ormas tidak boleh menjadi racun demokrasi. "Ormas yang tidak sesuai dengan Pancasila, kami bubarkan," tegas Bahtiar yang lulusan Doktor Ilmu Pemerintahan Universitas Pajajaran (Unpad), Bangung ini.

Direktur Eksekutif Para Syndicate Ari Nurcahyo menyoroti nasionalisme Indonesia saat ini perlu ditafsirkan sebagai nasionalisme yang membela nilai persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Menurutnya, Pancasila perlu diterjemahkan dalam laku kehidupan sehari-hari.

"Lembaga seperti Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) menjadi tidak relevan. Lebih baik praktik Pancasila langsung diejawantahkan di level kementerian dan birokrasi," tandas alumnus ITB ini.

Sementara itu, milenial blogger Margareta Astaman mengungkapkan Pancasila kian dirongrong oleh gerakan radikal. Kampanye gerakan radikal di medsos lebih gencar dibandingkan gerakan membangun rasa persatuan.

"Konten medsos kita lebih banyak ujaran kebencian. Kita masih terkotak-kotak, belum memaknai nilai kebangsaan," ungkap Margareta yang pernah juara lomba Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan tingkat nasional.

Benny Sabdo selaku editor mengatakan buku ini terbit sebagai kado ulang tahun ke-74 NKRI. Buku ini hasil kolaborasi persembahan intelektual Indonesia dan generasi milenial. Mereka berbagi kegelisahan sekaligus harapan untuk Indonesia masa depan.

"Pancasila sebagai dasar bernegara dalam menyatukan realitas perbedaan bangsa ini," pungkas alumnus Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Pengajar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Indonesia (UI), Ade Armando (kiri) bersama para pembicara lainnya dalam bedah buku bertajuk "Ancaman Radikalisme dalam Negara Pancasila" di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/8/2019).



Sumber: BeritaSatu.com