Indonesia Dorong Peran Generasi Muda dan Perempuan di Panggung Politik

Indonesia Dorong Peran Generasi Muda dan Perempuan di Panggung Politik
Ketua Departemen Pemberdayaan Perempuan DPP Partai Golkar, Diana Widyastuti saat berbicara pada International Conference of Asian Political Party (ICAPP) di Baku, Azerbaijan, Sabtu, 7 September 2019. ( Foto: Istimewa )
Asni Ovier / AO Senin, 9 September 2019 | 07:16 WIB

Baku, Beritasatu.com - Indonesia terus mendorong kalangan generasi muda dan perempuan untuk aktif di panggung politik Tanah Air. Peran pemuda dan perempuan dalam panggung politik terlihat jelas selama pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 dan 2019.

Hal itu dikatakan Ketua Deartemen Pemberdayaan Perempuan DPP Partai Golkar, Diana Widyastuti pada pertemuan Konferensi Internasional Partai Politik Asia (International Conference of Asian Political Party/ICAPP) di Baku, Azerbaijan, Sabtu (7/9/2019). Pimpinan partai politik dari 19 negara Asia, termasuk Partai Golkar, berkumpul di Baku untuk bertukar pengalaman tentang peningkatan peran pemuda dan pemberdayaan perempuan dalam kegiatan sosial politik

Diana Widyastuti merupakan satu-satunya peserta dari Indonesia. Pertemuan ICAPP dibuka secara resmi oleh Wakil Perdana Menteri Azerbaijan/Wakil Ketua New Azerbaijan Party, Ali Javad Acmadov, dan dihadiri oleh Ketua Konferensi Pemuda dan Perempuan ICAPP, Datuk Zahidan (UMNO Party, Malaysia), Yara Suos (Peoples Party, Kamboa), dan Sekjen ICAPP Park Ro-byug.

Pada kesempatan itu, Diana menceritakan pengalaman Indonesia dalam mendorong peran generasi muda dan perempuan dalam kegiatan politik, seperti yang jelas terlihat pada Pemilu serta Pilpres 2014 dan 2019. Dalam dua peristiwa politik tersebut, generasi muda dan perempuan berperan aktif, baik sebagai calon anggota legislatif (caleg) maupun juru kampanye capres/cawapres dalam ikut menentukan keputusan terkait nasib bangsa Indonesia ke depan.

"Selama masa kampanye sampai proses pencoblosan, kaum milenial telah mampu berpartisipasi dengan melakukan berbagai kegiatan positif dan menggunakan sarana media sosial untuk mencerdaskan bangsa dan membantu menentukan pilihan politik yang tepat. Para politisi perempuan dan mua juga menentang penyalahgunaan media sosial untuk kegiatan negatif, seperti penyebaran berita bohong atau berita-berita yang mengeksploitasi serta mempertentangkan perbedaan latar belakang suku, ras, dan, agama," ujarnya.

Diana menambahkan, generasi muda dan perempuan merupakan pemilik dari masa depan bangsa. Oleh karena itu, mereka harus diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dan penggagas, bukan hanya saat ini, tetapi juga di masa datang.

"Caranya adalah dengan memupuk bakat kepemimpinan dan memberikan mereka peluang sebesar-besarnya untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial dan politik," ujar Diana.



Sumber: BeritaSatu.com