Mahfud MD: Habibie Berotak Jerman, Berhati Makkah

Mahfud MD: Habibie Berotak Jerman, Berhati Makkah
Presiden ketiga RI BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Sidang Tahunan MPR diselenggarakan dengan agenda penyampaian pidato Presiden Joko Widodo mengenai laporan kinerja lembaga-lembaga negara. ( Foto: Antara Foto / Sigid Kurniawan )
Yudo Dahono / YUD Rabu, 11 September 2019 | 21:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD mengucapkan rasa duka dan bela sungkawa atas wafatnya Presiden ke-3 Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie, Rabu (11/9/2019). Menurut Mahfud, Indonesia kehilangan seorang Bapak Bangsa yang sangat membanggakan.

"Saya sedang di Mataram NTB bersama rombongan Parampara Praja (Dewan Penasehat Gubernur DIY) ketika mendengar barita wafatnya Bapak BJ Habibie, Rabu, 11/9/2019 jam 18.05 WIB. Innaa lillaah wa inna ilaihi raji'un. Bangsa kita telah kehilangan seorang Bapak Bangsa yang sangat nembanggakan," kata Mahfud.

Lebihi lanjut Mahfud menegaskan bahwa Habibie telah mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional karena prestasi dan reputasinya sebagai ilmuwan kelas dunia. Beliau juga menjadi kebanggaan kaum muslimin Indonesia karena ketika orang Islam masih dianggap kolot, dia berhasil menjadi contoh bahwa orang Islam bisa hebat dan tidak perlu bersikap inferior.

"BJ Habibie adalah ilmuwan muslim yang taat beribadah. Dari sosok dialah lahir ungkapan 'integrasi Iptek dan Imtaq', ilmu pengetahuan dan iman serta taqwa. Habibie dijadikan role model generasi muda Islam dengan ungkapan "berotak Jerman, berhati Makkah". Allahumma ighfir lahu warhamhu..." papar Mahfud.

Lebih lanjut Mahfud menyatakan bahwa Habibie merupakan penyelamat sekaligus pembangun negara Indonesia.

"Untuk bangsa Indonesia Habibie adalah penyelamat dan pembangun negara. Ketika Pak Harto lengser sebagai Presiden pada Mei 1998 maka Wapres BJ Habibie jadi Presiden sesuai dengan konstitusi. Dia didemo dan dihujat karena dianggap kroni Pak Harto tapi dia bertahan dengan sabar tegar menyelamatkan negara," jelas Mahfud.

Lebih lanjut Mahfud memaparkan bahwa menurut konstitusi, Habibie berhak menjabat Presiden sampai tahun 2003. Tapi dia segera mengumumkan diadakannya pemilu demokratis agar rakyat memilih wakil rakyat dan presiden baru. Habibie hanya memilih menjadi presiden yang bisa mengantarkan pemilu agar rakyat memilih pemimpinnya.

"Sebenarnya Habibie berpeluang besar untuk dipilih jadi Presiden lagi oleh MPR pada tahun 1999 tapi dengan kesatria dia tidak mau dicalonkan lagi karena pertanggungjawabannya terkait Referendum di Timtim ditolak oleh MPR. Pak Habibie, beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya. Namamu selalu di hati kami," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com