Ini Pesan Habibie pada Xanana bagi Timor Leste Usai Merdeka

Ini Pesan Habibie pada Xanana bagi Timor Leste Usai Merdeka
Presiden pertama Timor Leste, Xanana Gusmao, mencium kening Presiden ketiga RI, BJ Habibie, yang terbaring sakit dan dirawat di RSPAD Gatot Subroto, beberapa waktu lalu. Habibie meninggal pada Rabu (11/9/2019), di usia 83 tahun. ( Foto: Istimewa )
/ WBP Minggu, 15 September 2019 | 10:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden pertama sekaligus tokoh kemerdekaan Timor Leste Xanana Gusmao mengenang pesan almarhum Presiden ketiga RI Bacharuddin Jusuf Habibie bagi pembangunan Timor Leste setelah wilayah itu berpisah dari Indonesia pada 1999.

“Saya terharu sekali dengan pemikiran kakak saya. Beliau bilang, ‘Xanana, menurut saya kalian harus memperhatikan pendidikan dan di zaman sekarang ini lebih memfokuskan pada teknologi dan sains,’” kata Xanana Gusmao menirukan ucapan Habibie usai melayat ke kediamannya di Patra Kuningan, Jakarta, Sabtu malam (15/9/2019).

Untuk selalu mengingat jasa Habibie bagi Timor Leste, Xanana menyebut bahwa ada simbol sains dan teknologi yang dicetak di salah satu bagian Jembatan Habibie di Kota Dili.

“Pada Jembatan Habibie di Dili, di situ ada satu simbol teknologi untuk memberitahu bahwa Habibie adalah seorang yang demokratis dan Bapak Teknologi,” kata Xanana Gusmao.

Setelah menemui kedua putra Habibie untuk menyampaikan belasungkawa dan duka cita, Xanana menceritakan pengalaman dirinya dan Habibie yang saat itu menjabat sebagai Presiden RI di masa-masa jelang referendum Timor Leste pada 1999.

Saat itu, Xanana masih menjadi tahanan politik di era Presiden Soeharto, yang dipenjara di Cipinang sejak 1992 hingga akhirnya dibebaskan pada 1999 di masa Presiden BJ Habibie.

“Tahun 99 saya warga negara Cipinang. Waktu beliau (Habibie) bilang kasih kepada rakyat Timor Leste hak untuk memilih. Mau pecah itu, saya mau pecah. Saya teriak, itu security-security di penjara lihat, ‘Ada apa? Ada apa?’ Saya sakit di sini," ujar Xanana sambil menunjuk dadanya.

Kegembiraannya yang membuncah karena mendengar kabar itu membuat dada Xanana terasa sesak sebab perjuangannya sejak tahun 1980-an meminta referendum bagi rakyat Timor Leste akhirnya tercapai.

“Karena tahun ‘83 saya sudah kasih peace plan, tapi 16 tahun kemudian, 1999 baru bisa terjadi dan Pak Habibie adalah seorang aktor penentu di situ,” kata Xanana Gusmao.

Setelah itu, Xanana dibebaskan oleh Habibie, kemudian referendum dilaksanakan pada 30 Agustus 1999 dengan hasil mayoritas suara rakyat Timor Leste memilih berpisah dari Republik Indonesia.

Tidak hanya sebagai tokoh yang berjasa bagi Timor Leste, bagi Xanana, Habibie adalah seorang kawan lama yang kepergiannya meninggalkan duka mendalam.

“Saya tidak akan lupakan pertemuan kami terakhir, karena saya merasa bisa bahasa Arab, Habibie artinya mencintai dan dicintai,” kata Xanana Gusmao.



Sumber: ANTARA